23 November 2012

Nilai Jual

Weekend kemarin aku ke Wageningen lagi. Main ke tempat mbak Vit. Ritual yang sama persis dengan saat tahun pertama kami di Belanda. Seperti biasa, kami ngobrolin banyak hal. Salah satunya adalah membahas kenalanku yang kebetulan duda dengan 3 anak. Istrinya baru saja meninggal dan dia memutuskan menikah lagi dengan janda beranak 5. What a surprising news mengingat istrinya baru beberapa bulan meninggal dan pilihannya jatuh pada janda beranak 5 yang masih kecil-kecil semua. Alasan menikah kilatnya adalah karena anak-anak perlu figur Ibu. 

Kami terus terang jadi mengerutkan kening, trus meringis (kalau ga bisa dibilang nyaris ngakak). It's really nonsense for us, alasannya itu lho.. Laki-laki waras pasti mikir untuk memilih menikah dengan status janda beranak banyak, masih kecil-kecil pula. 

Alasan paling gampangnya :

1. Berat diongkos. Ngasih makan ekstra 6 orang, dengan gaji bulanan (yang kalaupun si istri baru ini berkerja juga, kalau si istri baru ini bukan manager atau direktur utama dengan gaji berlebih) yang kalaupun ada kenaikan (dari tambahan gaji istri baru) belum tentu kenaikannya signifikan

2. alasan anak-anak perlu figur ibu agak naif kedengarannya ya.. Karena si istri baru pasti gimana-gimana juga tetap akan ngurusin ke 5 anak kandungnya dulu. 5 anak itu bukan sedikit. 1 anak aja udah menyita perhatian sehari penuh apalagi 5 + 3 anak

3. alasan si istri baru (dan wanita manapun) dalam memilih pasangan juga pasti karena melihat sisi ekonomi. Membantu meringankan beban perekonomian.. Anak 5 bo'.. Biayanya banyak. Belum makannya, belum pakaiannya, belum sekolahnya.. Ditanggung sendiri? Jaman sekarang? Ngeri..

So kami sepakat alasan terjujur kenalanku ini menikah kilat adalah : udah ga kuat bo'.... Ga bisa sendiri lama-lama. 

Semacam lelaki yang lemah :p


Laki-laki manapun dengan pendapatan normal (baca : bukan berlimpah) pasti mempertimbangkan bawaan anak ini masak-masak. 
Pertimbangan selanjutnya tetap sisi ekonomi, si perempuan ini terbilang mandiri atau tidak? Kalau dia mandiri, nilai jualnya lebih tinggi karena bisa membantu meringankan beban perekonomian keluarga. Bisa jadi ban serep kalau suami-nya kenapa-kenapa dengan pekerjaannya. Bisa buat nabung lebih banyak untuk keperluan keluarga di masa depan.
Selain pertimbangan lain seperti kepribadian, latar belakang keluarga, dan tentu saja : cinta.
Jaman sekarang, mana ada yang bisa hidup hanya dengan makan cinta?


Mbak Vit bilang, janda dengan banyak anak itu punya nilai jual rendah.. Nilai tawarnya rendah. Yang bisa dapetin cuma laki-laki ecek-ecek. Konsumen tingkat rendah. 

Sesama hopeless.

Whooooaaaa.. Menohok.

Lagian jaman susah begini kok ya mau-maunya punya banyak anak. Kok ga KB ya? Bukannya kudu mikir bahwa kita kudu mempertimbangkan kualitas hidup anak-anak? Di kitab suci juga dibilang bahwa kita wajib ngurusin anak sebaik mungkin, tanggungjawabnya ke Tuhan. Ga bisa a la kadarnya dengan alsan : Tuhan, mampu saya sekian.. Kalau aku jadi Tuhan pasti aku jawab : "Sudah tahu mampumu itu segitu kok masih mau nambah anak? Bukannya manusia diberi kelebihan akal pikiran untuk berfikir lebih dalam, mempertimbangkan semua hal baik dan buruk, beda dengan binatang lainnya?"
Membatasi kelahiran bukannya menolak rejeki Tuhan. Kalau aborsi, nah itu baru menolak rejeki Tuhan.

Narrow minded bin pethuk.

Coba dibandingkan dengan janda yang anaknya sedikit (maksimal 2), mapan (baca : bekerja dengan penghasilan cukup karena cuma ngurusin 2-3 orang) dengan kata lain ga bakal menambah beban bagi suami, malah bisa bahu membahu dengan pihak suami untuk menopang perekonomian keluarga. 

Dia punya nilai tawar jauh lebih tinggi, dan yang bisa dapetin juga bukan laki-laki ecek-ecek. 
Mereka terhitung lebih mapan, dan cenderung tough dan mandiri secara ekonomi. Efeknya adalah mereka punya kualitas hidup lebih dan dampak selanjutnya adalah mempengaruhi kebahagiaan hidup.
Wanita seperti itu pasti punya rentang kriteria yang jauh lebih luas dibanding si-janda anak 5 tadi. Paling ga, ga hopeless dari segi ekonomi. Ga ada pikiran : ambil aja deh mumpung ada yang mau juga.. Ga selalu ada lho laki-laki yang ikhlas ngasih makan ekstra 6 orang.. hehehehe.. 

Well, tapi itu tadi murni pendapatku dan mbak Vit. Orang lain bebas berpendapat berbeda. Terus terang kami  penasaran dan pengen tahu kelanjutan cerita kenalanku tadi. Benar apa ga dugaan kami bahwa si istri baru ini mau sama dia lebih karena desakan kebutuhan ekonomi, dan si kenalanku itu tadi mau nerima janda dengan 5 anak karena dia tipe laki-laki lembek yang ga bisa hidup tanpa wanita. (Bandingin dengan duda-duda lain yang tough jadi sosok ayah sekaligus ibu bagi putra-putrinya selama bertahun-tahun, bahkan sampai akhir hayatnya). Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Kalau mengaca pada kasus di atas, aku merasa sangat bersyukur. Lebih bahagia. Lebih bebas & lepas. Bangga, pasti. Alhamdulillah semua terasa mudah untukku. Mungkin karena aku selalu bawa mudah? Mencari sisi positifnya dan menikmati setiap detiknya. Hidup di dunia cuma sekali, aku bertekad menikmatinya semaksimal mungkin.


1 comments:

august memory said...

kayaknya aku kenal deh sama orangnya .. memang iya, keliatan galak dan dingin orangnya hi3 ... semoga menjadi sahabat dan saudara selamanya

 
;