Aku senyum-senyum sendiri pas nulis ini, tentang cara (baca : kultur) orang Belanda saat menjamu tamu di rumah mereka dengan panganan kecil, umumnya cookies atau biskuit. Kebetulan di de Volkskrant pagi ini juga ada artikel 2 halaman penuh mengupas tentang cookies lengkap dengan foto bagaimana cara mereka menyuguhkannya :D (Thanks to Rob yang udah bela-belain motret artikelnya dan ngirim via whatsapp).
Yup, pakai piring kecil trus diatasnya ditaruh 1 cookies untuk masing-masing orang. Hehehehe.. Pertama kali aku bertamu ke rumah orang Belanda, kebetulan yang punya rumah sudah sepuh, aku sempat terheran-heran dengan cara mereka ngasih kue. Pelit amat, cuma 1. Beda banget dengan cara orang Indonesia yang biasa naruh banyak cookies di piring atau bahkan komplit se-kaleng-kalengnya di meja tamu dan tamu bebas mengambil cookies sebanyak mereka mau.
Kadang ga pake piring. Bisa jadi si empunya rumah bakal tanya ke kita, apa kita mau cookies apa ga. Kalau kita bilang mau, mereka akan buka kaleng biskuit didepan kita, kalengnya mereka pegang, trus kita disuruh ambil. Pastinya kita ambil 1 untuk kepantasan. Tapi setelah kita ambil biskuitnya, kalengnya langsung ditutup trus ditaruh di lemari dan ga bakal dibuka-buka lagi sampai kita selesai bertamu :D
Menurutku itu pelit, tapi hampir semua orang Belanda kaya gitu. Udah kultur mereka. Kalau aku bilang ke mereka bahwa mereka pelit, mereka bakalan ga terima. Trus apa dong istilah tepatnya kalau bukan pelit?
Kadang ga pake piring. Bisa jadi si empunya rumah bakal tanya ke kita, apa kita mau cookies apa ga. Kalau kita bilang mau, mereka akan buka kaleng biskuit didepan kita, kalengnya mereka pegang, trus kita disuruh ambil. Pastinya kita ambil 1 untuk kepantasan. Tapi setelah kita ambil biskuitnya, kalengnya langsung ditutup trus ditaruh di lemari dan ga bakal dibuka-buka lagi sampai kita selesai bertamu :D
Menurutku itu pelit, tapi hampir semua orang Belanda kaya gitu. Udah kultur mereka. Kalau aku bilang ke mereka bahwa mereka pelit, mereka bakalan ga terima. Trus apa dong istilah tepatnya kalau bukan pelit?
Aku tanya Rob, apa itu artinya orang Belanda pelit-pelit? Rob cuma ketawa. I don't know.. katanya. Never do like that in my family. Tapi memang iya, di tempat mama, mama ga beda kaya orang Indonesia, kalau nyuguh kue ke tamu mama biasa naruh banyak kue di piring besar, atau kotak biskuit itu ditaruh aja di meja tamu.
Sebenarnya banyak hal lain di orang Belanda yang bikin aku heran dan geli. (Nanti bakalan aku kupas juga di tulisan lain). I think Dutch people are a little bit funny and stupid sometimes. But still, I married one of them. Hahahaha.. This is life!
Sebenarnya banyak hal lain di orang Belanda yang bikin aku heran dan geli. (Nanti bakalan aku kupas juga di tulisan lain). I think Dutch people are a little bit funny and stupid sometimes. But still, I married one of them. Hahahaha.. This is life!
Tadi pagi kebagian tugas ngajar, 1 SKS, dari jam 07.00 - 07.50. Dari rumah berangkat jam 06.15. Jalan masih belum macet. lega rasanya, ga pake stress.
Kelar ngajar, buru-buru pindah ke ruang ujian skripsi, harus nguji skripsi jam 08.00. Di jalan ketemu mas Darno, pegawai bagian akademik, dia kelihatan bergegas menenteng satu tas laptop. Dia sneyum-senyum lihat aku & aku sapa, "mruput ya mas?" Mas Darno jawab, dengan gaya khas mas darno : "Inggih Bu, ini nyiapin untuk Prof ... X"
Aku nyengir. Walahh.. Gitu to kalau sudah jadi Professor. Dosen senior. Kalau mau ngajar, semua disiapkan. Laptop ada yang bawain. Enak ya. Ga kaya aku yang tenteng-tenteng laptop kemana-mana. Ga berat sih, jadi ga pernah merasa berat juga melakukannya..
Tapi aku jadi mikir, apa nanti kalau aku jadi Professor seperti beliau, laptopku juga bakal dibawain pegawai atau asisten ke ruang kuliah juga?
Hmmm.. kayanya sih enggak. Kemungkinan besar enggak. It's not my type. Susah banget aku bayangin jadi bossy gitu. Bayangin aku kaya Jokowi yang blusukan gitu malah lebih gampang.
(Pic taken from : http://id.omg.yahoo.com/news/mnc-tak-masalah-merugi-asal-miss-world-2013-100506498.html)
Itu boycot apanya bekicot ya? saudaranya kali?
Paling sebel sama ormas yang mengklaim diri Islami tapi yang diurusi malah barang yang ga penting. Ambil contoh, protes penyelenggaraan miss world ini. Kok ya ga mikir bahwa ini termasuk ajang promo pariwisata ke seluruh penjuru dunia..
Mbok ya daripada protes acara miss world, atau sweeping-sweeping yang bukan menjadi kapasitas mereka untuk melakukan (harusnya tugas polisi dan penegak hukum), mereka itu benar-benar menjalankan jihad di kondisi dan situasi negara saat ini, dimana masih banyak kemiskinan dan kebodohan. Berjihadlah dengan mengentaskan kemiskinan dan kebodohan, bukannya memusuhi pemeluk agama lain atau malah bikin teror (baca : membunuh, merampok, mencuri demi terorisme).
Tapi yah.. mungkin sulit untuk meminta mereka berjihad mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Secara, kasat mata aja, dari poster diatas, mereka sendiri jelas-jelas masih bodoh, nulis boycott (Inggris) atau boikot (Indonesia) aja boycot. Bodoh karena ga bisa mikir panjang dan menentukan definisi jihad yang benar untuk kondisi saat ini. Mereka mikirnya masih ke belakang ke jaman nabi Muhammad SAW. Belum mampu menarik inti sari Qur'an untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari.
Mungkin juga mereka mayoritas malah masih hidup dibawah garis kemiskinan? Makanya protes melulu menganggap dunia atau hidup ini tidak adil, berusaha melawan kemapanan yang ada dengan aksi terorisme?
Wallahualam.
Dunia memang sudah tua. Mau kiamat.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact