Kejadian ini dialami oleh salah satu staff-ku, inisialnya W (bos-bos lagi mikirin, tindakan & cara seperti apa yang paling baik untuk menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya & sekaligus menegurnya).
Ceritanya gini :
Aku punya rekan senior dosen (inisialnya N) yang nulis di blognya tentang pengalaman dia 12 tahun lalu pas dia pertama kali diterima jadi dosen di fakultasku. Dia cerita, dia dulu mengalami diskriminasi gender. Saat dia masuk, dia ditolak oleh kepala bagianku dengan alasan : yang dibutuhkan adalah dosen laki-laki yang bisa kemana-mana & tidak terbatasi oleh beban keluarga seperti halnya dosen wanita. (Sayangnya dia tidak menjelaskan kenapa pada akhirnya dia bisa tetap diterima dengan tangan terbuka sampai saat ini). Dia juga cerita bahwa setelah dia masuk, ada gelombang penerimaan dosen besar-besaran (termasuk aku) dengan hanya 2 dosen laki-laki disitu, tapi dosen-dosen yang mayoritas wanita itu tidak mengalami perlakuan diskriminasi seperti halnya yang dia alami. Menurut dia, mungkin hal itu disebabkan karena dosen-dosen wanitanya cantik-cantik, sexy dan masih muda (padahal sebenarnya dia juga cantik dan muda & ga bisa dibilang punya badan tidak proposional- alias kalau mau sexy sih bisa-bisa aja. Sexy kan tergantung antara lain : cara berpakaian, ya kan?).
Nah, di akhir blog, si W ini kasih comment begini :
"Mbak N (sensored), yang sabar ya... Aku yakin...mbak lebih dari mereka. Aku selalu berdoa dan men support mbak dari sini. Goodluck ya mbak..."
(Note : semua dituliskan sama persis, including jumlah titiknya :p, sesuai aslinya)
Ini yang saat ini bikin masalah baru & jadi pemikiran semua dosen di bagianku. Karena hal yang ditulis oleh Bu N di-blognya adalah hal yang salah kaprah & hanya merupakan pemikiran negatif dari sisi dia. Yang sesungguhnya terjadi bukan seperti itu & bukan masalah diskriminasi gender sama sekali. Dan aku plus temen-temen dosen semua yang masuk setelah Bu N sama sekali tidak merasa cantik apalagi sexy, yang kesannya seperti kami ini hanya mengandalkan cantik atau sexy dan bukannya kapabilitas kami sebagai dosen?! Yang bener aja!!!!
Masalah lainnya adalah, si W yang notabene masuk jadi staff (laboran) di bagianku baru-baru aja & ga tahu duduk permasalahan sebenarnya, memberikan comment yang bukannya justru mendinginkan suasana tapi malah nambahin panas, karena commentnya ga stop sampai di "Mbak N (sensored), yang sabar ya..." Tapi masih berlanjut dengan menyebut "mereka". Sik sik sik.. Siapa "mereka" yang W maksud? Semua dosen yang disebut bu N di blog-nya yang berarti dosen-dosen yang diterima setelah bu N dan kepala bagian pada saat itu cs?
Masalah W bukan cuma sekali ini aja, ada masalah lain yang menurutku sampai saat ini dia belum ngeh bahwa dia salah, padahal kami (aku & teman-teman dosen di bagian) lumayan keganggu dengan hal ini. W kebetulan diberi kemudahan oleh kepala bagianku & pihak fakultas untuk menempuh S2, tetapi jabatan dia tetap seorang laboran. Namun dalam kenyataannya, di lingkungan kampus si W ini dengan akrabnya menyapa aku & temen-temen dosen lainnya dengan sebutan "Mbak" atau "Mas" yang mestinya secara etika profesi, ga sesuai, apalagi kalau didepan mahasiswa. Sampai sekarang dia ga ngeh dengan hal ini. Mungkin karena dia pikir dia akrab dengan kami & kami masih muda.. :( Padahal, aku dengan rekan dosen yang lebih muda aja manggil Pak atau Bu.. Okelah kalau pas diluar kampus, misalnya pas ketemu di mall atau apa, dia boleh aja manggil "Mbak" atau "Mas" tapi kalau di lingkungan kampus & di depan mahasiswa, ya ga pantas-lah..
Terus terang aku ga tahu apa si W ini sudah ngerti masalah yang lagi memusingkan hampir seluruh anggota bagian sekarang ini & dia kesangkut-sangkut masalah itu (kata temenku si W ini kesannya cari muka banget ke bu N! :( ). Kami (aku & temen-temen sesama dosen) jadinya memutuskan untuk menjaga jarak dengan si W, hanya sebatas masalah kerja & hanya nyapa seperlunya aja. Bagaimanapun, menurut aku, ini kan sebetulnya sedikit banyak merugikan si W, apalagi kalau si W ini berencana untuk apply posisi sebagai dosen di bagianku someday, hubungannya dengan kami sudah terganjal, ga mulus. Kami udah terlanjur kecewa dengan dia. Barusan temenku main ke ruang kerjaku & usul supaya aku nemuin si W ini sambil bawa copy-an blog-nya yang sudah di stabilo di kata cantik, sexy & di comment si W & nanyain ke W : maksud W nulis itu apa & siapa yang W maksud dengan "mereka"? Cuman akunya males ribut, aku ga yakin aku sudah cukup sabar & slowing down emotionally gara-gara isi blog & commentnya itu. Bisa-bisa aku mewakili temenku mencak-mencak di depan si W. Males ah!
Untuk masalah Bu N, dari dulu kami ini punya prinsip : males ribut & mendingan dilupain aja. Kata temenku : "Gini deh Vi, 1 orang bener & yang 12 dosen ini selalu ga bener semua, apa tumon? Bukannya kebalik tuh (yang ga bener ya yang 1 itu). Pokoke ngene ae saiki : SING WARAS NGALAH"
Huehehehe.. dia emang terkenal nyantai, selalu kalem & kepala dingin kalau ada masalah meskipun sebenarnya dia ribut juga didalamnya (suka chatting sama aku & bahas masalah ini). Nah karena ngobrolinnya lewat chatting, jadinya kesannya ya adem-adem aja ;))
Well, barusan kepala bagianku juga cerita, bahwa masih akan didiskusikan tindakan apa yang paling baik untuk ngadepin si W. Ini pelajaran berharga buat semua, supaya ga sok kenal sok dekat tapi ga tahu apa-apa (SKSD PALAPA) ke orang, apalagi kalau orangnya terkenal bermasalah, karena bisa keseret-seret masalah bo'! Pelajaran juga bahwa kalau ga tahu masalahnya, lebih baik diem deh. Silent is golden! Bener!
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact