26 November 2007 0 comments

Sakit

Jumat dini hari aku demam, so ga bisa masuk kantor. And so does he.
Hwalah, sakit kok kompakan.. Sampai ada yang nanya, emang semalam ngapain kok sakitnya kompakan? :p
Orang ga ngapa-ngapain juga. Dia di apartemen dia, aku di rumah. Tau-tau aja paginya pas sms-an, isinya sama : I've got fever this morning :(

Pagi ini udah ngantor lagi, masih sakit sih nih amandel. Buat nelen rasanya atit banget. Tapi ya gimana lagi, lots of things to do. Kudu masuk kantor. Dia juga, has got to work. Besok sore baru bisa ketemu lagi. Moga-moga kalau udah ketemu, both of us will be better.. hwahahaha..
16 November 2007 0 comments

mE & mY IdEaL LiFeStyLe....

The ideal lifestyle (without financial border)... express what i have in mind!


Q: Married or free-soul?
married...

Q: If married, on what age??
hmmm about next 2-4 years :D

Q: Kids?
(M/F) M - F - M/ M - M - F

Q: Pets?
cats & dogs

Q: Home country?
It depends on where's my hubby lives.. abroad is okay :D

Q: House or apartment?
house but apartment is okay :D

Q: Near beach or mountain?
both are okay

Q: Describe it
very nice, artistics, comfy, near Mosque/Church, not too big but warm with love ;)

Q: Music that plays in your living room?
I'll have all range of musics, but mostly soothing, earcatching tunes...

Q: What's on your bookshelf?
books, flowers, family pictures

Q: What's on your fridge?
healthy & fresh food, fruit juice, milk, CHOCOLATE, etc

Q: Personal car or public transport?
personal car

Q: If personal car, what is it?
beetle convertible (hwihihihi.. I'm dreaming..)

Q: Own your company or be a common worker?
both are okay

Q: If it's your own, what are they?
coffee shop, men's wear or maternity boutique, cotton shop

Q: Describe your working place
casual, not too formal and comfortable

Q: Fashion on work?
yeah.. absolutely!

Q: City you'd visit often for business?
Everywhere!

Q: For pleasure?
Old cities with artistic buildings, mountains, cities which are rich in cultures

Last question:
Q: Where and what are you doing 10 years from now?
possibility #1 : somewhere in Indonesia / India / Europe, working as 'researcher/lecturer', married with loving husband and have lovely children :D
possibility #2 : somewhere in Indonesia / India / Europe, working as 'analyst/ manager', married with loving husband and have lovely children :D
possibility #3 : somewhere in Indonesia/ India / Europe, managing my own 'coffee shop + cotton shop', married with loving husband and have lovely children :D


---------------------
WHY NOT?!
14 November 2007 0 comments

Global warming : apakah kita benar peduli?

Udah paham tentang global warming apa cuman setengah ngerti tentang topik yang lagi anget ini, ternyata sangat berpengaruh dengan tindakan apa aja yang bisa kita lakukan sedini mungkin untuk lingkungan sekeliling kita. Apa lagi kalau malah ga ngeh apa-apa, ga nyadar kalau lingkungan sekitar kita ini sama aja dengan rumah yang kita diami. Kalau lingkungannya rusak, sama aja rumah kita rusak. Mau tinggal dimana lagi? Mars?

Kasus macet gila-gilaan di Jakarta ini makin mempercepat proses global warming karena gara-gara macet itu banyak banget emisi CO2 yang terbuang di langit Jakarta & bisa bikin bolong ozon di atas Jakarta! Well, coba deh tengok sebentar apa aja yang diringkas wikipedia tentang global warming alias pemanasan global ini : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

Sebenarnya banyak banget hal-hal kecil yang bisa kita lakukan demi kelestarian lingkungan kita, itu kalau kita ga mau bencana terus-terusan menghantam kita. Kecuali kalau memang kita sama sekali ga ambil pusing dengan lingkungan dan siap untuk hidup di negara Indonesia yang kering kerontang, atau justru kebanjiran & longsor melulu. Daftar di bawah ini bisa ditempuh. Pertanyaannya, sudahkah kita menerapkannya?

  1. Hemat energi : listrik (kalau ga dipake / ga perlu, dimatiin dong!), air (usahain mandi pakai shower, karena kalau pake gayung airnya banyak yang kebuang percuma. Kalau ga punya shower & kepaksa pake gayung, diusahain pas mandi jangan cebar-cebur buang-buang air, arahin gayungnya supaya airnya kena di tubuh kita secara merata, usahain gimana caranya supaya dengan 2 gayung air, badan udah basah & siap disabun. Air lebih banyak digunakan untuk membilas badan dari sabun. Dan, jangan mandi lama-lama karena itu sama aja dengan buang-buang air!), air limbah cucian sayur atau daging juga bisa digunakan buat nyiram tanaman, itung-itung nambah pupuk.
  2. Jangan buang sampah sembarangan! Sering banget saya lihat orang naik mobil mewah tapi mentalnya bener-bener mental orang ndeso & sedeng. Mobilnya sih mewah tapi kelakuannya bener-bener kelewatan, membuang sampah seenaknya di jalan. Rakyat Indonesia mayoritas juga masih suka sembarangan buang sampah di sungai / parit. Nanti kalau giliran kebanjiran, yang disalah-salahin pemerintahnya. Mulai sekarang, mikir dulu deh sebelum membuang sampah sembarangan, efek buruk apa yang kita tuai dari kelakuan seenak udel kita itu. Belajarlah disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya.
  3. Memilah sampah. Apalagi di Indonesia ini sistem pengolahan sampahnya masih pake tipe open dump, alias sampahnya ditumpuk aja. Gas yang terbentuk dari pembusukan sampah oleh mikroba itu justru bikin emisi gas karbon meningkat & merusak ozon! Negara kita belum membuka keran industri besar pengolah sampah, sehingga ini menyulitkan proses recycling sampah. Hal ini mestinya mulai dipikirin oleh pemerintah kita, buka investasi untuk pabrik pengolah sampah & daur ulang sampah. Di negara-negara maju seperti Jerman & Jepang, sudah ada pabrik yang mendaur ulang plastik, sampah radiokatif seperti barang elektronik, baterai dll, sampah kayu & sampah besi menjadi produk-produk hasil daur ulang yang sangat-sangat berguna & bisa dipake lagi. Tugas penduduk selanjutnya adalah memilah sampah organik (sisa sayur, makanan, kayu seperti rautan pinsil dll) dari sampah anorganik (plastik, baterai, kertas dll). Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos, jadi rakyat Indonesia khususnya petani ga bakalan ribut lagi kekurangan pupuk dan bisa mengurangi penggunaan pupuk kimiawi yang jelas-jelas bahayanya karena bisa terakumulasi dalam tubuh manusia & bikin toksik. Sampah anorganik selanjutnya diolah di pabrik daur ulang sampah buat dibikin produk hasil daur ulang.
  4. Nanam pohon. Ga mesti pohon-pohon besar, apalagi kalau lahan kita terbatas. Paling ga, tanamlah tanaman bunga atau tanaman lain yang ukurannya kecil. Ingat, tanaman berrespirasi dengan menyerap CO2 dan mengeluarkan O2, jadi sedikit banyak bisa membantu mengurangi emisi gas karbon di sekeliling kita.
  5. Mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan bermotor. Kalau bisa jalan kaki, jalan kaki aja. Kalau bisa naik sepeda, naik sepeda. Itung-itung olah raga, daripada buang-buang uang ga sedikit buat ke gym. Atau kalau ga, naik angkutan umum. Selain bisa mengurangi polusi, bisa ngurangin macet juga.
  6. Jangan nebang pohon sembarangan! Kalau harus nebang pohon, gantilah 1 pohon yang ditebang dengan menanam 2 pohon yang baru. Tetanggaku punya tanah kebun di depan rumah, dulu ditanami banyak tanaman, ada nangka, keluwih, kelapa, mangga.. Tapi belakangan tanaman-tanaman itu justru ditebang buat dijual kayunya. Kayu nangka kan harganya mahal.. Tapi akibatnya, tanah seluas 350 meter persegi itu sekarang gersang. Pas panas, bikin debu. Akhirnya atas desakan warga lainnya, tanah kebun yang belum niat dibangun rumah itu ditanamin lagi. Ada beberapa bibit tanaman yang ditanam, mulai dari rambutan, jeruk sampai mangga. Masih kecil sih, namanya juga bibit, tapi setidaknya tanah kebun itu ga gersang lagi.
Mungkin masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang bisa kita perbuat untuk melindungi lingkungan kita dari kerusakan. Semuanya kembali ke kita, apa kita mau menjaga lingkungan kita atau ga. Karena tetep aja hasil akhirnya kita yang menuai..
13 November 2007 0 comments

Tata kota & transportasi

Belakangan tiap baca koran, lihat berita atau denger curhat sodara-sodara di Jakarta soal macet di jalan-jalan Jakarta yang gila-gilaan, mau ga mau aku bersyukur karena disini belum ada macet seperti di Jakarta. Aku ga bisa ngebayangin, gimana bisa orang mau kerja, atau anak-anak mau sekolah kudu stress dulu sebelumnya gara-gara macet. Apa ya masih bisa mikir di sekolah & di kantor? Apa masih bisa produktif? Kayanya kok enggak.

Aku pernah baca di Kompas, sudah agak lama, tentang batavia tempo dulu. Jaman Belanda masih menjajah, di Batavia ada public transport berupa trem. Sayangnya begitu Indonesia merdeka, pemerintahan Presiden Soekarno menghapus trem (Alasannya, trem itu ga gaya! Halah.. alasan keliru gitu kok ya diikutin!) dan menggantinya pake bus, yang nyata-nyata punya daya angkut terbatas dan sama sekali ga ramah lingkungan. Belum lagi pengemudinya yang asal bisa nyupir tanpa punya aturan moral, kedisiplinan dan ketaatan mengemudi dan merawat kendaraannya.

Aku jadi sering ngayal, kalau diminta bikin tata ruang suatu wilayah kota, aku pengennya bikin set-nya dari awal banget, mulai dari menentukan area pemukiman untuk warga di tengah kota dengan taman-taman, arena rekreasi keluarga, sekolah & lokasi untuk hypermarket / pasarnya. Di bagian tepi kota ada hunian untuk kalangan menengah ke atas yang bisa bikin rumah gede-gede plus kolam renang pribadi. Area paling luar buat industri. Dari bagian tengah kota ke pinggir kota diatur berurutan & merata bank & kantor pemerintahan. Jadinya rata, ga semua daerah perkantoran terpusat & tumplek blek di tengah kota seperti di Jakarta.

Trus kudu ada pembatasan kendaraan (mobil & motor) pribadi. Bikin aja harga & pajaknya selangit. Bikin juga test buat dapet SIMnya susah kaya di Amrik, ga kaya disini yang "nembak" aja juga bisa dapet SIM.

Lebar jalan juga kudu dibagi-bagi : buat area pedestrian & ditanamin pohon-pohon peneduh di kiri-kanannya, atau dibikinin model pergola dengan tanaman rambat yang bikin orang bisa enjoy jalan kaki, ga kepanasan & kehujanan; buat jalur sepeda kaya di Belanda sana; jalur trem & jalur bis (busway) & mobilnya. Jalur trem, mobil & bis dibuat sedemikian rupa supaya tiap jalan dibuat satu arah, kecuali beberapa jalan aja yang memang ukurannya sudah sangat lebar & memungkinkan dibuat 2 jalur kendaraan bermotor. Kalau naik bis & masih kudu disambung jalan kali beberapa blok, asal area pedestriannya nyaman, pasti orang juga enjoy jalan kaki, sekalian olah raga kan..

Dan satu lagi yang paling penting, sistem hukumnya juga kudu dirombak. Ga melempem kaya sekarang. Perpaduan antara penegakan hukum, disiplin dan penerapan denda & hukuman yang tinggi buat pelanggar hukum & peraturan terbukti ampuh & efektif menciptakan situasi yang teratur & terkendali. Di Belanda, orang-orang sana pada takut dengan denda yang tinggi kalau ketahuan ga ngikutin peraturan & tata tertib. Contohnya nih, kalau naik kereta ga tiap kali ada pemeriksaan tiket oleh kondektur, tapi sekali-kalinya ada pemeriksaan dan ketahuan ga beli tiket, dendanya bisa 20x lipat atau bisa diturunin di tengah jalan. Disana, orang-orang bener-bener bisa jujur dan disiplin di segala bidang. Beda banget sama model orang Indonesia :(

Kasus di Jakarta (mungkin kota-kota lain belum separah Jakarta, tapi kalau dibiarin, lama-lama juga bakalan seperti Jakarta), balik-baliknya adalah ke mental orang Indonesianya. Manja, mau gampangnya aja, cuma mikirin udelnya sendiri, meremehkan hal-hal kecil & jauh dari disiplin diri. Makanya hukum ga bisa berdiri tegak, bisa dikiyak-kiyuk pake duit!
 
;