30 November 2010 0 comments

Pilihan

Beberapa hari yang lalu, seorang temen curhat lewat BBM, bahwa kalau inget bahwa umur semakin bertambah sedangkan status masih juga jomblo, itu malah bikin stress. Makanya dia bawa santai aja, cuek bebek dengan statusnya yang single meskipun umur udah kepala empat.

Aku gatel mau nyeletuk, siapa tahu bakal jadi jomblo forever? Maksudku, gimanapun kan kudu siap kalau-kalau Yang Diatas memang mentakdirkan kita kudu jadi jomblo forever :p

Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Semua itu (keinginan untuk segera melepas status single, tapi disisi lain pasangan yang dicari juga ga dapet-dapet) kan tergantung banyak faktor. Misalnya, seberapa tinggi permintaan kita (baca : kriteria pasangan) dibanding kondisi yang tersedia.. halah.. :p

Tapi itu betul. Setidaknya satu sepupuku masih juga awet menyandang status single gara-gara dia, menurut aku, mintanya terlalu tinggi : calonnya kudu sarjana, cakep, mapan secara ekonomi, seumuran, dan moslem yang taat (baca : sudah Haji karena dia Hajjah)..

Well, logis sih.. Tapi kan kriteria tersebut harus juga di-compare sama kondisi riil dia (sepupuku) itu. Apakah dia juga cantik sehingga paling ga kalau bersanding itu pantes, yang laki-laki cakep & yang perempuan cantik? Apakah dia juga "sarjana" (baca : lulus dengan IP memuaskan, dari fakultas & universitas yang bagus), sampai dimana kondisi mapan yang diharapkan? Apakah harus sudah punya rumah, tanah, mobil pribadi dan penghasilan diatas rata-rata gaji PNS golongan IIIc per bulan? Umur yang tidak terpaut jauh, berarti ga boleh terlalu tua atau terlalu muda, dan moslem yang taat, apakah dia pribadi juga sudah merupakan moslem yang taat (hajjah yang mabrur) dan bukannya moslem yang sedikit-sedikit masih percaya ramalan, takhyul, dukun dan primbon???

Nah untuk kasus temanku ini, aku juga jadi bertanya-tanya, jangan-jangan kriteria yang dia minta untuk jadi pasangannya juga kelewat tinggi, mengingat temanku itu jelas sudah mapan secara ekonomi, sudah haji pula dan tampang juga ga mengecewakan.. Contoh paling gampang : sepertinya dia pengen perempuan yang masih muda, kalau bisa belum pernah menikah, cerdas, taat beragama dan cantik.. So, lebih spesifik lagi, dan otomatis lebih susyah dapetnya.

Karena menurutku, perempuan yang muda usia, biasanya juga masih pengen ini itu, advonturirnya masih tinggi, sedangkan dia sudah mulai kalem gaya hidupnya, sudah mulai yang suka hal-hal yang tenang, stay di rumah instead of dugem dll.. Mereka juga cenderung mencari yang seumuran, 20-30 atau late 30. Matre jelas..

Aku sendiri?

:p Terus terang aku sekarang dalam posisi nyantai. Ga ada tekanan buat buru-buru nyari pedamping. Mungkin karena aku lagi fokus ke studi, pengen selesai S3 dulu. Mungkin juga karena Aca sudah mulai besar dan mulai mandiri. Mami bilang, gimanapun aku nanti perlu seorang pendamping, untuk teman berbincang & berdiskusi, pas Aca sudah sibuk sama dunianya & keluarganya sendiri..

Hmm..

Mami betul. Dan aku juga terus terang jadi bertanya-tanya, apakah aku juga terlalu pemilih atau meletakkan kriteria yang terlalu tinggi untuk pasanganku nanti?
Ayuk dikupas satu-satu :

1. untuk soal tampang/fisik, aku ga lagi melihat ini sebagai faktor utama dan cenderung mengeksplor inner beautynya, meskipun kalau temanku ga setuju aku bisa mengerti. Dia bilang, lha gimana bisa awet sama pasangan kalau kita lihat tampang pasangan aja udah eneg? Dan buat aku, meskipun tampang ga utama, aku masih tetap rewel dengan masalah tinggi badan. Dia harus lebih tinggi daripada aku. Aca aja yang baru 12 tahun sekarang tingginya sudah hampir se-aku, ngebayangin calon bapaknya belum-belum sudah lebih pendek dari dia bikin aku hilang selera..   :p

2. kemapanan, aku terus terang menganggap ini penting karena aku udah ada rumah, mobil, tanah untuk investasi masa depan. Dan terus terang kalau calonku belum mapan, aku ga tahan dengan pemikiran dia nanti bakalan tinggal "nyemplung" dirumahku & tinggal make mobil.. Istilah kasarnya, dia dapet komplit : istri, anak & rumah seisinya.. Whoaaaa.. tidaaaaaakkkk.. So, ya mungkin aku matre hihihihi..
Tapi aku sungguh ga menganggap situasi seperti yang temanku punya, dimana dia cukup mapan tapi masih harus membantu biaya kuliah ponakan-ponakannya, menjadi suatu hal yang menimbulkan masalah. Aku malah bisa menerima hal itu. I mean, kalau aku dapet orang seperti temanku itu, aku bakalan ok-ok aja. Tokh dia sudah punya rumah juga, mobil.. Gajinya dikurangi biaya kuliah ponakan-ponakannya ditambah gaji bulananku, masih lebih dari cukup buat biaya hidup per bulan :) So, matre tapi ga masalah kalau masih harus menolong keluarga yang kesusahan :p

3. pendidikan.. Hmm.. aku inget banget salah satu staff di fakultas pernah nyeletuk begini pas aku menjelang berangkat ke Belanda untuk S3 : Aduh, nanti tambah susah dapet pasangan dong, Bu.. Bakalan ngeper duluan lihat gelar Doktornya..
Huffhhh.. cape deh.. Ya begini ini kondisi kultur patriarki, dimana suami dituntut di atas, superior dibanding istri. Padahal menurutku, aku sekolah sampai S3 juga bukan karena melulu mauku, ini lebih karena tuntutan pekerjaan. Kalau disuruh memilih aku lebih senang diam di rumah ngurus rumah & anak-anak :p Aku tipe rumahan. Lagipula menurutku, bagaimanapun tingginya gelar istri, di rumah yang namanya suami tetaplah kepala keluarga yang pendapatnya harus didengar dan dihargai. So, ga serta merta gelar istri menistakan harga diri suami. Yang paling penting adalah kesetiaan dan tanggung jawab suami ke keluarga!
Tapi yang penting buat aku bukan gelarnya, tapi nyambung enggaknya kalau ngobrol. Aku pernah punya teman, ga usah ngomongin gelarnya, cukuplah dibilang dia sarjana. Tapi pas ngobrol ga pernah nyambung, njegleg banget (baca : wawasannya sempit banget, jadi ga bisa ngimbangin aku ngomong. Terkesan dia bego banget). Tapi temanku yang lain, sama-sama sarjana, wawasannya mayan luas, tiap ngobrol sama aku nyambung banget. Enak banget ngobrol & diskusi sama dia. Dan ga perlu harus jadi sama-sama master atau doktor buat itu. Punya wawasan yang cukup aja udah bagus!

Hmm.. kriteria lain, agama.. Ini agak ribet, karena menyangkut prinsip hidup. Of course aku senang banget kalau bisa dapet calon suami yang seiman. Bisa shalat bareng sama Aca, jadi Aca ga sendirian lagi. Tapi seandainya tidak, well.. aku dibesarkan dalam keluarga beda agama, so aku agak flexible soal keharusan 1 agama atau tidak.

Well, itu beberapa contoh aja.
Kesimpulannya kita memang dituntut harus mengaca, apakah kita meletakkan kriteria terlalu tinggi? atau apakah kita belum benar-benar membuka hati? masih milih-milih.. maunya A padahal maunya Yang Maha Pemberi Hidup B.. Kaya temanku, yang dilihat yang dilangit, padahal didepan matanya perempuan single juga banyak. Atau aku, yang terlalu nyantai & cuek dan ga ada usaha buat nyari? kaya ga perlu pendamping aja.. :p
0 comments

Tantangan Riset di Indo

Sudah bolak-balik, tiap harus kerja di lab Mikrobiologi (di kantor di Indo), rasanya miris banget. Kebetulan lab-nya juga dipake praktikum mahasiswa S1. Dan laborannya entah sibuk banget atau apa, ga selalu sempat taking care of lab-nya.
 
;