23 May 2018 0 comments

Am I?


A friend of mine sent this email to me last night :



Dear Si,


Time goes by. You are evolved. I found you now as a tough and strong woman; have a great sense of humor that I can laugh at your jokes and bear with you in times of major calamity; prepared to deal with every problem you face; reliable and very sincere; caring and thoughtful, compassionate and charitable; beauty and brains in one body; outspoken person, who likes to talk anything and everything..

But I know that deep down inside sometimes you tried to hide every tears and pain. I saw you smile but your eyes swollen with weeping. You never told me what’s going on and still have that beautiful smile at your face. You said you’re absolutely all right but I know you lied.


Don’t you ever realize that it’s good to have a shoulder to cry on? It’s Ok if you wanna keep that bad story just for you but I want to tell you this, I’ll be there for you everytime you need me. Just call my name, I’ll be with you.


I really care of you. You are my best friend, Lady



That's makes me wondering, am I really a strong and tough woman? I don't think so. I absolutely agree that I prefer keep my problems with me and try to solve it by myself. I don't like to depend on others unless I just absolutely have no choice.

0 comments

Tuhan selalu menggantikan dengan yang jauh lebih baik




Aku dulu kuliah S1 di Biologi Universitas X di pulau Y. Selesai kuliah saat itu pas ada lowongan kerja jadi dosen di Biologi Universitas X. Aku dan teman-temanku mendaftar. Masukin lamaran, dan ikut wawancara. Hasilnya, aku ga diterima. Temanku yang IPKnya lebih rendah malah diterima. Barangkali salah satu alasannya adalah karena aku bukan orang asli suku Y, sehingga mereka takut nanti aku akan menikah dengan orang yang satu suku denganku, dan mengundurkan diri. Paling ga, itu yang mereka tanyakan saat wawancara, meskipun jawabanku jelas bahwa aku akan loyal pada pekerjaanku.

Anyway, akhirnya aku pulang ke Bandung, kembali ke orangtua, dan kerja di sana. Baru beberapa bulan kerja, BuDe di Jogja yang pensiunan Farmasi UGM mengabarkan bahwa Farmasi UGM saat itu membuka lowongan dosen, cukup banyak yang dibutuhkan, dan mereka mencari lulusan Biologi untuk mengajar matakuliah terkait Biologi. Selama ini mahasiswa Farmasi harus berkuliah di Biologi untuk mata kuliah-mata kuliah terkait Biologi, dan apabila ada dosen farmasi sendiri yang dapat mengajar topik tersebut, mestinya ini akan lebih efisien.

Singkat kata, aku melamar. Ada 2 orang lulusan Biologi yang melamar, aku dengan background mikrobiologi dan 1 lulusan Biologi UGM bidang ekologi tumbuhan. Dan setelah mengikuti semua tahap seleksi mulai dari mengirimkan surat lamaran, wawancara di fakultas, wawancara di universitas, ujian tulis nasional, aku dan teman dari biologi UGM yang sama-sama melamar dinyatakan lolos seleksi. Jadilah aku CPNS di Fakultas Farmasi UGM. Setahun kemudian aku resmi PNS. Aku kemudian ambil S2 bioteknologi UGM, dan S3 di Leiden University, The Netherlands. Saat ini sudah 19 tahun aku mengajar di Farmasi UGM.

Jujur, terkadang aku merasa outsider karena bukan farmasis, bekerja di Fakultas Farmasi. Tapi kalau dipikir lebih jauh, di sini aku tetap bisa berkembang. Aku mengajar mikrobiologi dan biologi sel, juga farmakognosi. Aku juga dipercaya menjadi Sekprodi S1. Aku juga jadi liaison officer Joint International Office UGM-Leiden Univ. Publikasi internasionalku lumayan banyak, hampir tiap tahun aku mampu menghasilkan karya publikasi internasional, baik scopus maupun thomson reuters. Aku mencoba cek laman google scholar temanku sealmamater yang sekarang kerja jadi dosen di Universitas X. Hasilnya? Dia bahkan ga punya google scholar. Mantan supervisorku punya laman google scholar tapi publikasinya ecek-ecek. h-indexnya bahkan masih tinggi aku. Mereka juga tidak tiap tahun publish, apalagi internasional.

Semakin kesini, aku semakin mensyukuri apa yang Tuhan beri ke aku. Tuhan dengan cantiknya membuatku kecewa dengan tidak mengijinkan aku kerja di Universitas X, dan menempatkan aku di tempat yang menurutku asing saat itu, di UGM. Tuhan tidak mengijinkan aku kerja di tempat ecek-ecek, dan justru menempatkan aku di tempat yang tinggi dan sangat baik. UGM saat ini jadi Universitas terbaik se-Indonesia. 

Coba dipikir kalau aku misalnya kerja di Universitas X, barangkali aku tidak akan memiliki publikasi sebanyak sekarang. Barangkali aku tidak S3 ke Belanda, paling-paling ke Australia (hampir semua lulusan luar negeri di Biologi Universitas X lulusan Australia). Dan yang pasti aku tidak bisa minimal 1 tahun sekali ikut seminar di luar negeri karena di Universitas X belum tentu ada dana bantuan seminar luar negeri. Dan yang penting, aku gak bakalan jadi liaison officer Leiden Univ. Aku pasti tidak berkembang, kegiatan rutin cuma ngajar dan seminar nasional, atau internasional tapi di Indonesia. Boring.

Hal yang sama juga terjadi di kehidupan asmara. Dulu pacarku orang suku Y. Kami lantas putus karena dia ternyata punya kekasih lain dan mereka menikah karena yang perempuannya hamil 5 bulan. Aku marah dan kecewa. Tapi Tuhan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Aku masih bertanya-tanya kenapa aku dulu bisa suka sama dia?

Maka aku yakin dengan sangat, penuh keimanan, bahwa Tuhan selalu memberikan yang paling baik buat aku. Apapun itu kondisinya, itu adalah yang terbaik. Dan pasti akan selalu jadi lebih baik lagi ke depannya. Aamiin.

Terima kasih atas segalanya, Tuhanku. Aku mencintaimu 💓💓



 
;