Salah satu seniorku (Y) menempuh program doktor-nya di LN dengan research assitantship. Itu bukan seperti beasiswa kebanyakan, prinsipnya dengan research assistanship, research study kita include di dalam proyek sang professor, dan kita digaji (biasanya sesuai standar minimum disana), & tuition fee sudah dibayarkan, tapi karena bukan beasiswa, research assistanship jarang sekali sampai mengcover insurance, book allowance, etc, dan sekali lagi, yang juga perlu digaris bawahi, research assistantship sangat tergantung pada keberlanjutan research professornya, kalau selesai, selesai juga kontrak kerja kita & kita diminta membiayai sendiri study kita.
Aku sengaja menyinggung research assistantship di atas (yang lebih terbatas daripada kebanyakan beasiswa yang mengcover allowance yang lebih banyak seperti : tuition fee, living allowance, book allowance, insurance, tiket pp, special programme, thesis fee dll), terutama kalau kita pengen membawa anggota keluarga untuk menemani selama kita study di LN.
Pertama, kita haruslah baik-baik dan bijak mempertimbangkan besaran jumlah beasiswa atau assistantship yang kita terima. Apakah untuk hidup minimal kita sendiri sudah terpenuhi?
Kedua, kita harus mempertimbangkan, apakah diperbolehkan bagi kita membawa anggota keluarga selama masa study? Ini hubungannya dengan dana yang bisa dicover oleh pemberi beasiswa, juga visa & paspor application, termasuk juga insurance dependants selama di LN yang ga murah. DAAD, Monbusho & AusAid misalnya, mengijinkan kita membawa anggota keluarga dan ada jatah living cost untuk dependants. Tapi banyak juga beasiswa lain yang tidak mengcover jatah hidup anggota keluarga.
Dalam kasus ini, menurutku, kita harus mengedepankan logika ketimbang emosi (baca : alasan bahwa : aku ga bisa hidup kalau jauh suami/istri & anak-anak). Kita memang akan lebih nyaman studi dengan ditemani orang-orang yang kita cintai di dekat kita, tapi apakah mereka bisa hidup layak & nyaman dengan keterbatasan dana tersebut? & apakah keputusan membawa dependants tidak malah membawa implikasi lain yang lebih berat & kompleks?
Seniorku yang lain (X) pernah bilang, pilihan membawa atau tidak membawa keluarga selama masa studi di LN mutlak merupakan pilihan yang harus ditanggung resikonya oleh yang bersangkutan.
Menurutku, sekedar menambahkan, studi di LN tidak hanya memperluas ilmu kita tapi juga pengalaman kita dalam beradaptasi dengan kultur yang berbeda. Kita dituntut tidak hanya memiliki otak yang tok cer untuk bisa menyelesaikan Master atau Doctoral degree, tapi kita dituntut punya kedewasaan sikap & emosi. So, kalau memang ga siap atau ga bisa hidup dengan jauh dari keluarga (menurutku, ga mandiri, ga dewasa, childish.. orang jawa bilang : mbok2en, mungkin kalau ke suami atau anak2 ya jadi bojo2en atau anak2en :p), lebih baik lepaskan saja cita-cita membawa anggota keluarga, apalagi kalau beasiswa atau assistanship tidak mendukung keinginan untuk membawa anggota keluarga.
Seniorku si Y tadi, dengan alasan tidak bisa hidup jauh dari suami & anak-anaknya, akhirnya memboyong suami & 2 orang anaknya meskipun stipend yang dia dapat untuk dia sendiri sangat pas-pasan. Walhasil dia mengalami begitu banyak kesulitan keuangan mulai dari saat menjelang keberangkatan, sampai detik ini saat dia masih disana & berjuang untuk meraih gelarnya. Dia bahkan memutuskan untuk mengambil study lanjut untuk mendapatkan dana lebih (baca : gaji) supaya dia & keluarganya bisa pulang kembali ke Indo, membayar pinjaman dari uni tempatnya study sekarang, melunasi rumah & tanah yang dia "pinjamkan ke bank dengan pengganti uang (untuk modal dia membawa keluarganya ke LN & settlement allowance untuk mereka selama bulan2 pertama di LN)" supaya dia tidak homeless saat dia pulang ke Indo nanti, dll, bahkan dengar2 anak2nya tidak punya insurance yang memungkinkan mereka bisa dideportasi setiap saat. Keputusan yang ditentang oleh Uni karena semua staff yang sudah selesai study wajib pulang dulu ke negara asal & bekerja selama 1-2 tahun sebelum berangkat study lagi ke luar. Pertimbangan lain, untuk rolling staff yang study lanjut ke LN. Gantian gitu maksutnya.
Nah, kasihan kan kalau mengetahui kesulitan keuangannya? Tapi bagaimanapun itulah resiko yang harus ditanggung & alangkah baiknya bila kalau memang kita berniat membawa dependants bersama kita saat study, kita mengetahui lebih dulu dari awal mulanya limitations kita, kendala-kendala & resiko yang harus kita hadapi & alangkah bijaksananya bila kita tidak menyalahkan pihak lain (baca : professor atau pihak pemberi beasiswa / assistantship, universitas dll) terhadap apapun kesulitan yang harus kita hadapi sehubungan dengan keputusan kita itu. Kan ga ada lucunya kalau (seharusnya) dari awal kita sadar assistantshipnya ngepas untuk hidup sendiri, kita masih nekat bawa keluarga (3 orang) & saat kesulitan ekonomi, kita menyalahkan professor (karena assistantship-nya kurang atau ga dinaikkan padahal kerjaan kita bejibun :p - yah soale itu kan tergantung jumlah dana proyek professornya, ga bisa dong sembarangan naikin gaji staff), atau nyalahin Uni (termasuk di dalamnya dekan, staffs) karena ga mengijinkan meneruskan study ke jenjang lebih tinggi demi mendapatkan gaji untuk perbaikan ekonomi saat pulang ke Indo :D
Memang lain orang lain keputusan, lain policy, lain pertimbangan. kebetulan aku single parents, dan aku merasa berat kalau harus research sekaligus jadi single mom disana, di negara yang kulturnya beda, budayanya beda & perlu adaptasi setiap saat. Aku lebih merasa save menitipkan Aca ketangan mami & my sisters. Aku tahu dia ada di tangan yang aman & terbaik.
Seandainya pun aku masih punya suami sekarang, aku juga akan mikir2 dulu sebelum memutuskan membawa suami & anakku. Lihat2 tipe suamiku gimana. Kalau suamiku tipe suami yang konvensional, yang kudu diladenin, ndoro gitu deh.. wah.. aku juga ga bakalan bawa dia. Udah senewen duluan aku ngebayangin kudu research di lab 8-5, nyampe rumah kudu beresin rumah, masak, urus suami, urus anak.. lhah.. kapan aku belajarnya?? Kecuali kalau suamiku tipe suami yang sangat mengerti dunia pendidikan, broad minded, sangat tenggangrasa & ga canggung mengerjakan pekerjaan rumah & membantu istri saat istri sedang sibuk di kampus, wah, pasti aku bawa deh!
Atau kalau pekerjaan suami kebetulan di sektor swasta yang kalau harus move ke LN harus dilepas, gimana nanti kalau udah balik ke Indo lagi? Apa dia bisa merintis lagi usaha dari awal mengingat iklim usaha pasti beda, usia & modal juga udah beda..
Study abroad memang menguntungkan, tapi kompleks juga permasalahan yang harus kita siapkan sebelum kesana, mental & fisik :)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact