19 February 2008 0 comments

Study abroad : bring family members

Salah satu seniorku (Y) menempuh program doktor-nya di LN dengan research assitantship. Itu bukan seperti beasiswa kebanyakan, prinsipnya dengan research assistanship, research study kita include di dalam proyek sang professor, dan kita digaji (biasanya sesuai standar minimum disana), & tuition fee sudah dibayarkan, tapi karena bukan beasiswa, research assistanship jarang sekali sampai mengcover insurance, book allowance, etc, dan sekali lagi, yang juga perlu digaris bawahi, research assistantship sangat tergantung pada keberlanjutan research professornya, kalau selesai, selesai juga kontrak kerja kita & kita diminta membiayai sendiri study kita.

Aku sengaja menyinggung research assistantship di atas (yang lebih terbatas daripada kebanyakan beasiswa yang mengcover allowance yang lebih banyak seperti : tuition fee, living allowance, book allowance, insurance, tiket pp, special programme, thesis fee dll), terutama kalau kita pengen membawa anggota keluarga untuk menemani selama kita study di LN.

Pertama, kita haruslah baik-baik dan bijak mempertimbangkan besaran jumlah beasiswa atau assistantship yang kita terima. Apakah untuk hidup minimal kita sendiri sudah terpenuhi?

Kedua, kita harus mempertimbangkan, apakah diperbolehkan bagi kita membawa anggota keluarga selama masa study? Ini hubungannya dengan dana yang bisa dicover oleh pemberi beasiswa, juga visa & paspor application, termasuk juga insurance dependants selama di LN yang ga murah. DAAD, Monbusho & AusAid misalnya, mengijinkan kita membawa anggota keluarga dan ada jatah living cost untuk dependants. Tapi banyak juga beasiswa lain yang tidak mengcover jatah hidup anggota keluarga.

Dalam kasus ini, menurutku, kita harus mengedepankan logika ketimbang emosi (baca : alasan bahwa : aku ga bisa hidup kalau jauh suami/istri & anak-anak). Kita memang akan lebih nyaman studi dengan ditemani orang-orang yang kita cintai di dekat kita, tapi apakah mereka bisa hidup layak & nyaman dengan keterbatasan dana tersebut? & apakah keputusan membawa dependants tidak malah membawa implikasi lain yang lebih berat & kompleks?

Seniorku yang lain (X) pernah bilang, pilihan membawa atau tidak membawa keluarga selama masa studi di LN mutlak merupakan pilihan yang harus ditanggung resikonya oleh yang bersangkutan.


Menurutku, sekedar menambahkan, studi di LN tidak hanya memperluas ilmu kita tapi juga pengalaman kita dalam beradaptasi dengan kultur yang berbeda. Kita dituntut tidak hanya memiliki otak yang tok cer untuk bisa menyelesaikan Master atau Doctoral degree, tapi kita dituntut punya kedewasaan sikap & emosi. So, kalau memang ga siap atau ga bisa hidup dengan jauh dari keluarga (menurutku, ga mandiri, ga dewasa, childish.. orang jawa bilang : mbok2en, mungkin kalau ke suami atau anak2 ya jadi bojo2en atau anak2en :p), lebih baik lepaskan saja cita-cita membawa anggota keluarga, apalagi kalau beasiswa atau assistanship tidak mendukung keinginan untuk membawa anggota keluarga.

Seniorku si Y tadi, dengan alasan tidak bisa hidup jauh dari suami & anak-anaknya, akhirnya memboyong suami & 2 orang anaknya meskipun stipend yang dia dapat untuk dia sendiri sangat pas-pasan. Walhasil dia mengalami begitu banyak kesulitan keuangan mulai dari saat menjelang keberangkatan, sampai detik ini saat dia masih disana & berjuang untuk meraih gelarnya. Dia bahkan memutuskan untuk mengambil study lanjut untuk mendapatkan dana lebih (baca : gaji) supaya dia & keluarganya bisa pulang kembali ke Indo, membayar pinjaman dari uni tempatnya study sekarang, melunasi rumah & tanah yang dia "pinjamkan ke bank dengan pengganti uang (untuk modal dia membawa keluarganya ke LN & settlement allowance untuk mereka selama bulan2 pertama di LN)" supaya dia tidak homeless saat dia pulang ke Indo nanti, dll, bahkan dengar2 anak2nya tidak punya insurance yang memungkinkan mereka bisa dideportasi setiap saat. Keputusan yang ditentang oleh Uni karena semua staff yang sudah selesai study wajib pulang dulu ke negara asal & bekerja selama 1-2 tahun sebelum berangkat study lagi ke luar. Pertimbangan lain, untuk rolling staff yang study lanjut ke LN. Gantian gitu maksutnya.

Nah, kasihan kan kalau mengetahui kesulitan keuangannya? Tapi bagaimanapun itulah resiko yang harus ditanggung & alangkah baiknya bila kalau memang kita berniat membawa dependants bersama kita saat study, kita mengetahui lebih dulu dari awal mulanya limitations kita, kendala-kendala & resiko yang harus kita hadapi & alangkah bijaksananya bila kita tidak menyalahkan pihak lain (baca : professor atau pihak pemberi beasiswa / assistantship, universitas dll) terhadap apapun kesulitan yang harus kita hadapi sehubungan dengan keputusan kita itu. Kan ga ada lucunya kalau (seharusnya) dari awal kita sadar assistantshipnya ngepas untuk hidup sendiri, kita masih nekat bawa keluarga (3 orang) & saat kesulitan ekonomi, kita menyalahkan professor (karena assistantship-nya kurang atau ga dinaikkan padahal kerjaan kita bejibun :p - yah soale itu kan tergantung jumlah dana proyek professornya, ga bisa dong sembarangan naikin gaji staff), atau nyalahin Uni (termasuk di dalamnya dekan, staffs) karena ga mengijinkan meneruskan study ke jenjang lebih tinggi demi mendapatkan gaji untuk perbaikan ekonomi saat pulang ke Indo :D

Memang lain orang lain keputusan, lain policy, lain pertimbangan. kebetulan aku single parents, dan aku merasa berat kalau harus research sekaligus jadi single mom disana, di negara yang kulturnya beda, budayanya beda & perlu adaptasi setiap saat. Aku lebih merasa save menitipkan Aca ketangan mami & my sisters. Aku tahu dia ada di tangan yang aman & terbaik.
Seandainya pun aku masih punya suami sekarang, aku juga akan mikir2 dulu sebelum memutuskan membawa suami & anakku. Lihat2 tipe suamiku gimana. Kalau suamiku tipe suami yang konvensional, yang kudu diladenin, ndoro gitu deh.. wah.. aku juga ga bakalan bawa dia. Udah senewen duluan aku ngebayangin kudu research di lab 8-5, nyampe rumah kudu beresin rumah, masak, urus suami, urus anak.. lhah.. kapan aku belajarnya?? Kecuali kalau suamiku tipe suami yang sangat mengerti dunia pendidikan, broad minded, sangat tenggangrasa & ga canggung mengerjakan pekerjaan rumah & membantu istri saat istri sedang sibuk di kampus, wah, pasti aku bawa deh!
Atau kalau pekerjaan suami kebetulan di sektor swasta yang kalau harus move ke LN harus dilepas, gimana nanti kalau udah balik ke Indo lagi? Apa dia bisa merintis lagi usaha dari awal mengingat iklim usaha pasti beda, usia & modal juga udah beda..

Study abroad memang menguntungkan, tapi kompleks juga permasalahan yang harus kita siapkan sebelum kesana, mental & fisik :)

14 February 2008 0 comments

Valentines Note For Michiel


When our story is told,
and it will be told
in song and fable and interpretive dance
and puppet show, people will weep with joy
and, through sobs, say,
“Today we have witnessed love.
How can our lives not be bettered by this?”



Love you, M..
:-*
09 February 2008 0 comments

Leiden (lagi!)

Have to prepare :


1. housing wonen
2. mvv
3. diving license
4. sponge samples
5. extracts
6. coat etc
7. boot etc
8. Indonesian traditional dance (which I suppose to do it in cultural night) :p
9. Indonesian traditional dress (which I suppose to wear it on my thesis defense) :D
10. Nederlands spreken

and ... the last but not least :

research.. research.. research.. research.. research.. research.. research.. research.. research..



Hmmppphhh...
0 comments

Discuss with Michiel


Kemarin sore akhirnya kesampaian juga main ke kelas Scutos 1, sebelumnya bolak-balik batal gara-gara sibuk :p Chris yang ngajar, dikasih text & so far, meskipun aku ketinggalan banyak pertemuan, aku masih bisa ngikutin & cuman miss satu-dua vocabs. Sayangnya cita-citaku ngelepas kangen sama bu Lestari & nanyain bu Sisca ga kesampaian. Ternyata sejak Christmas holliday kemarin beliau ga pernah lagi masuk kelas :(


Abis kelas, Dayat asked me about my future planning (of course study & stay in Netherlands for about 4-5 years) & dia nanya-nanya tentang kelas belanda di karta pustaka. Ah, dia mah emang suka belajar bahasa, bahasa Rusia aja dia bisa! Tapi meskipun aku langsung kabur begitu kelas scutos selesai, aku tetep aja kejebak hujan yang mendadak aja turun deres banget & sempat bengong lama di parkiran samping atma deket satpam, untung ada pak Ferry yang nemenin & ngajak ngobrol. & selama ngobrol itu aku kepikiran Dayat yang pulang ke kost-nya cuman "met te voet" alias jalan kaki. Pasti keujanan deh itu anak!


& gara-gara hujan itu, aku telat 15 menit ketemu Michiel. Ga papa, pas corn soup-nya udah matang juga, so aku tinggal makan hehehe.. Hmm, Michiel emang biasa masak :p Aku di tempat Michiel for about 3 hours, ngobrol macem-macem (rahasia lah) termasuk ini nih, bagian dari riset postdoc dia : kenapa sih kita bisa hidup & kenapa bisa mati, cancer, apoptosis, stem cell etc. Pusing? well.. ga juga :D Kami kan pasangan scientist :p Hwahahahaha.. Ga kok, cuman kebetulan aja aku mudenk hal yang satu itu & kebetulan juga aku kudu mulai kelas cell biology next monday, so obrolan Michiel bisa jadi reminding bahan kuliahku.


BTW, rencana berangkat ke belanda Juni kayanya juga bakalan mundur karena denger-denger dana beasiswa-nya baru turun September :( Kata Michiel, Dats goed! Soalnya aku masih bisa libur panjang lebaran bareng keluarga & lagian Michiel juga baru balik lagi sekitar Oktober. So, syukur-syukur bisa berangkat bareng. Well, aku cuman bisa berharap 1 hal : semoga Michiel & all the feelings I have inside ga bakalan jadi penghalang study-ku. So far, Michiel guardian angel yang baik kok, stay away kalau aku lagi kudu konsen ke research & full of help & attention pas aku lagi perlu bantuan dia. Yah, moga-moga aja aku tetep bisa balancing emosi & pikiran. Soale, seperti yang Michiel bilang kalau pas lagi error (menurutku, pas lagi mabok :p) : "I'm sinking in the sea of your love" (halah!) well.. masalahnya adalah : kayanya aku juga :p
06 February 2008 0 comments

Lyric of The Day : Melati Suci

Aku hampir ga pernah nonton yang namanya sinetron, tapi belakangan ada sinetron di Trans7 tentang love story-nya Bung Karno & Bu Fatmawati. Bukan sinetronnya yang aku suka, tapi OST-nya.

OST itu (judulnya Melati Suci) pertama kali aku denger udah lama banget, jaman masih SMP. Berapa puluh tahun yang lalu ya? Jadul banget deh pokoknya. Tapi asli, lagunya masih bagus aja kedengeran di kupingku sampai sekarang. Secara, yang nyiptain lagunya Guruh Soekarno Putra, yang lagu-lagu apa aja ciptaannya bener-bener ear catching banget!

Anyway, gini nih liriknya.. (Belum sempat download lagunya di imeem :p)



Melati Suci


Putih, putih melati
Mekar di taman sari
Semerbak wangi penjuru bumi

Seri, seri melati
Bersemi anggun asri
Kucipta dalam gubahan hati

Tajuk bak permata
Siratan bintang kejora
Kan ku persembahkan
Bagimu pahlawan bangsa
Putiknya persona
Rama-rama 'neka warna
Kan ku persembahkan
Bagi pandu Indonesia

Suci, suci melati
Suntingan 'bu Pertiwi
Lambang nan luhur budi pekerti

Tajuk bak permata
Siratan bintang kejora
Kan ku persembahkan
Bagimu pahlawan bangsa
Putiknya persona
Rama-rama 'neka warna
Kan ku persembahkan
Bagi pandu Indonesia

Suci, suci melati
Suntingan 'bu Pertiwi
Lambang nan luhur budi pekerti

oh, melati..
oh, melati..
oh, melati..


By : GSP (Guruh Soekarno Putra)
 
;