17 September 2013 0 comments

Bila aku nanti jadi Professor

Tadi pagi kebagian tugas ngajar, 1 SKS, dari jam 07.00 - 07.50. Dari rumah berangkat jam 06.15. Jalan masih belum macet. lega rasanya, ga pake stress.

Kelar ngajar, buru-buru pindah ke ruang ujian skripsi, harus nguji skripsi jam 08.00. Di jalan ketemu mas Darno, pegawai bagian akademik, dia kelihatan bergegas menenteng satu tas laptop. Dia sneyum-senyum lihat aku & aku sapa, "mruput ya mas?" Mas Darno jawab, dengan gaya khas mas darno : "Inggih Bu, ini nyiapin untuk Prof  ... X"

Aku nyengir. Walahh.. Gitu to kalau sudah jadi Professor. Dosen senior. Kalau mau ngajar, semua disiapkan. Laptop ada yang bawain. Enak ya. Ga kaya aku yang tenteng-tenteng laptop kemana-mana. Ga berat sih, jadi ga pernah merasa berat juga melakukannya..

Tapi aku jadi mikir, apa nanti kalau aku jadi Professor seperti beliau, laptopku juga bakal dibawain pegawai atau asisten ke ruang kuliah juga?
Hmmm.. kayanya sih enggak. Kemungkinan besar enggak. It's not my type. Susah banget aku bayangin jadi bossy gitu. Bayangin aku kaya Jokowi yang blusukan gitu malah lebih gampang.
0 comments

Masih bodoh

Subekti / TEMPO



Itu boycot apanya bekicot ya? saudaranya kali?

Paling sebel sama ormas yang mengklaim diri Islami tapi yang diurusi malah barang yang ga penting. Ambil contoh, protes penyelenggaraan miss world ini. Kok ya ga mikir bahwa ini termasuk ajang promo pariwisata ke seluruh penjuru dunia..

Mbok ya daripada protes acara miss world, atau sweeping-sweeping yang bukan menjadi kapasitas mereka untuk melakukan (harusnya tugas polisi dan penegak hukum), mereka itu benar-benar menjalankan jihad di kondisi dan situasi negara saat ini, dimana masih banyak kemiskinan dan kebodohan. Berjihadlah dengan mengentaskan kemiskinan dan kebodohan, bukannya memusuhi pemeluk agama lain atau malah bikin teror (baca : membunuh, merampok, mencuri demi terorisme). 

Tapi yah.. mungkin sulit untuk meminta mereka berjihad mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Secara, kasat mata aja, dari poster diatas, mereka sendiri jelas-jelas masih bodoh, nulis boycott (Inggris) atau boikot (Indonesia) aja boycot. Bodoh karena ga bisa mikir panjang dan menentukan definisi jihad yang benar untuk kondisi saat ini. Mereka mikirnya masih ke belakang ke jaman nabi Muhammad SAW. Belum mampu menarik inti sari Qur'an untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. 

Mungkin juga mereka mayoritas malah masih hidup dibawah garis kemiskinan? Makanya protes melulu menganggap dunia atau hidup ini tidak adil, berusaha melawan kemapanan yang ada dengan aksi terorisme?

Wallahualam. 

Dunia memang sudah tua. Mau kiamat.


 
;