28 May 2008 0 comments

Tour 1

Jumat sore jam 15.30 tet aku & keluarga (aku, aca, mami, ddlin & wawan) & keluarga besar kantorku berangkat tour 3 hari ke Jakarta-Bogor-Bandung. Sebenarnya udah pernah juga jalan kesana, tapi mengingat ini mungkin tour terakhir sebelum aku berangkat study abroad, so aku & keluarga memutuskan untuk ikutan.


Kami naik bis. Perlu 5 bisa untuk ngangkut orang2 se-kantor plus keluarganya masing-masing. & seperti biasa, aku langsung bobo :D Kebangun pas makan malam di Gombong. Tengah malam, aku sempat kebangun juga & udah siap-siap bobo lagi pas nyadar bahwa bis lagi isi solar di suatu pompa bensin di perbatasan jateng-jabar & pemandangan di bawah ini yang akhirnya bikin mataku langsung jernih. Saat itu menjelang pukul 12 tengah malam, saat mulai diberlakukan harga bensin baru (Rp. 6000,00 / liter) & sudah ada aturannya, masyarakat dilarang membeli bensin dalam jumlah banyak (pakai jerigen) di pom bensin. Tapi lihatlah kenyataan di lapangan, petugas pompa bensinnya bisa disogok & masyarakat bisa tetep beli bensin ber liter-liter pakai jerigen. Inilah potret masyarakat kita. Mental masyarakat kita. Indonesia gitu lho. Malu ga? Aji umpung banget!


break the rules
19 May 2008 0 comments

An Inconvenient Truth

  • Academy Award 2007 - Best Documentary
  • 2007 Stanley Kramer Award
  • The President Award 2007
  • 2006 Academy Award - Documentary Feature & Best Original Song
  • Nobel Peace prize untuk Al Gore & Interngovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas jada mereka mengingatkan masyarakat dunia tentang bahaya Global Warming
  • 93% rating dari Rotten Tomatoes
  • 94% rating dari "Cream of the Crop"
  • Kritikus film Roger Ebert & Richard Roeper : "TWO THUMBS UP"



From : http://www.climatecrisis.net/

0 comments

So/so situation

Pas nonton Kick Andy episode "Harmoko" Kamis malam kemarin (tgl 15), aku terkesan dengan kemampuan beliau yang bisa menempatkan diri sesuai situasi, apakah dalam kapasitas menjadi teman dekat Alm. Pak Harto, ketua DPR atau ketua Golkar atau pribadi? Konsekuensinya memang beliau akhirnya di cap : plin-plan, oportunis, menusuk dari belakang (Alm. pak Harto), bermuka dua etc.. Bayangkan, dulu beliau terkenal dekat dengan Alm. Pak Harto, tapi belakangan hari, beliau justru orang pertama yang meminta Alm. pak Harto lengser.


Pak Harmoko menyatakan, dalam situasi saat itu, dia sebagai pribadi maupun dalam kapasitas jabatannya, harus berlaku arif & bijaksana & mampu memandang semua permasalahan tidak dalam lingkup sempit. Beliau harus bisa melihat dengan jernih permasalahan yang timbul kala itu dari perspektif pribadi, beliau sebagai orang dekat Alm. Pak Harto, beliau sebagai ketua DPR, beliau sebagai ketua Golkar dan mengambil keputusan bijak, yang terbaik dari yang terbaik, dalam hal ini, beliau jelas harus mengedepankan tuntutan rakyat Indonesia saat itu menuntut Alm. Pak Harto lengser) dan mengesampingkan pandangan pribadinya yang lain, demi terciptanya kondisi sosial politik negara yang terkendali & aman.


Well, memang sulit nyari orang yang bisa zakelijk seperti beliau. Tapi, hehehe.. ga usah jauh-jauh, aku termasuk orang yang seperti beliau. Aku ga tahu ini aku dapat dari mana & sejak kapan, tapi seingatku, sejak dari aktif di BEM & Senat jaman S1 dulu, aku sudah bisa memutuskan segala sesuatu dengan zakelijk (baca : tanpa terpengaruh emosi). Aku udah pernah mempromosiin orang untuk duduk di suatu kepanitiaan padahal dia musuh bebuyutanku, hanya karena : he's good & sangat capable untuk posisi itu. Sebaliknya juga pernah, aku pernah melengserkan teman dari posisinya di kepanitiaan meskipun dia temen deket aku banget, hanya karena dia ga bertanggungjawab dengan pekerjaannya & bikin semuanya kacau balau.

Orang-orang dekatku sudah tahu kapasitasku yang satu ini.

Aku ga tahu apa aku pantas juga dibilang obyektif? Dan aku juga ga peduli. Aku cuma melakukan apa yang saat itu harus aku lakukan. Seringkali, kita berada dalam situasi, harus mengambil keputusan obyektif dan sama sekali ga bisa pake unsur-unsur KKN.

Beberapa minggu yang lalu, kejadian serupa terulang. Kami sekantor harus memutuskan nasib seorang rekan kerja yang ingin mengisi 1 posisi di kantor kami. Kebetulan aku lumayan deket dengan dia (sebut aja : Dita). Dia teman yang baik. Dan kebetulan di rapat itu, aku salah 1 dari sekian banyak orang yang tidak setuju dia menempati posisi tersebut, bukan karena aku ada masalah dengan Dita, atau karena Dita ga capable (oo.. Dita bagus & capable), tapi karena kami memerlukan orang lain dengan kualifikasi yang lebih spesifik (baca : kualifikasi X) & karena jatah kantor kami hanya 1 orang, kalau kami menerima Dita, maka bila saatnya nanti tiba kami memerlukan orang dengan kulifikasi X tersebut, jatah kami sudah tidak ada. Gawat itu! Lain halnya bila jatah kami 2 orang, maka kami masih bisa menerima 1 orang dengan kualifikasi X sekaligus menerima Dita. Dan di rapat itu aku termasuk salah 1 yang bilang : "sementara ini : ditolak". Cuman 2 orang yang memberi suara mendukung Dita : 1, kepala kantorku, dengan alasan yang beliau sampaikan dengan sangat jelas di rapat : Kasihan, karena umur Dita sudah mepet, kalau Dita tidak diterima sekarang, tahun depan Dita tidak bisa apply posisi yang sama lagi". 1 lagi suara dari mantan kepala kantorku, alasannya : "karena Dita capable, semua tugas proyek yang Dita kerjakan berhasil dikerjakan dengan baik", dan untuk ini aku dan salah satu rekan setuju untuk mengcounter bahwa sebenarnya Dita tidak 100% menjiwai pekerjaannya karena salah satu tugas yang menjadi tanggungjawab Dita untuk dikerjakan, ternyata tidak dikerjakan dengan baik & sungguh-sungguh & hasilnya mengecewakan (kalau di audit selalu banyak teguran atas keburukan yang timbul).

Efeknya langsung jelas terlihat, entah Dita tahu sendiri karena ada orang yang memberitahu hasil rapatnya atau dengan menebak-nebak sendiri. (Menurutku wajar kalau ketahuan dia gagal karena kalau Dita berhasil dapat posisi itu mestinya setelah rapat selesai, akan langsung banyak orang yang memberinya ucapan selamat, tapi kali ini ga). Yang jelas setelah itu Dita & aku agak renggang hehehehe.. Aku ga tahu apa ini Dita sengaja menjauh atau enggak, aku juga baru nyadar sekarang setelah salah satu rekanku nanyain, kenapa Dita sekarang jarang haha-hihi sama aku. Aku ga terlalu nyadar sebelumnya karena belakangan aku memang sibuk sendiri dengan urusanku dan ga sempat haha-hihi kaya dulu. Yang jelas aku ga ngerasa punya feeling yang beda ke Dita. Tetep sama aja kaya dulu. Tapi kalau Dita menganggap, pendapatku pas di rapat mempengaruhi ditolaknya dia menempati posisi di kantor, aku rasa salah. Karena tanpa suaraku menolak pun, yang memberikan suara menolak sudah 6 suara (7 orang sama aku), lawan 4 suara abstain & 2 suara mendukung. Tanpa aku bilang tidak pun, Dita tetep ditolak. Dan aku tetap sibuk & ga sempat haha-hihi lagi..

So?

Ya.. kata temanku, situasi yang agak ga enak tapi demi kebutuhan kantor, we have to choose the right one :D

So, accept it!




0 comments

Menulis Blog = Berjalan di Red Carpet

Nulis Blog itu sama aja dengan berjalan di red carpet. Tahu kan istilah red carpet? Itu tuh, karpet merah yang suka dibuat jalan para seleb atau penggede-penggede. Di sepanjang karpet merah itu mereka tampil perfect banget & menampilkan yang terbaik saja dari mereka.

Sama juga dengan saat kita memotret. Kita hanya memotret event-event bagus, dan memilih diantara even-event bagus itu, potret terbaik yang akan kita bingkai & kita pajang di meja atau dinding rumah.

Nulis di blog nyaris seperti itu juga. Jarang banget aku menemukan blog yang apa adanya, menuliskan semua kejadian baik atau buruk dari penulisnya tanpa ditutup-tutupi atau disensor. Blog yang apa adanya gitu bisa dihitung dengan jari deh. Mayoritas hanya menulis yang baik-baik aja, misalnya : pas jadi juara lomba ini itu, ditulis lengkap dengan segala puja-puji dan ucapan terima kasih. Tapi begitu beritanya ga enak, misalnya : lamaran beasiswanya ditolak atau diputusin pacar, atau bahkan dipecat dari perusahaan, berita itu hampir ga terposting barang 1 kata pun! Kalaupun berusaha posting, isinya ga clear.. paling banter cuman begini : "Ya Tuhan berilah aku kekuatan.. ketegaran.." bla bla bla.. dan hanya mengagung-agungkan Kuasa Tuhan yang membuat segalanya yang tadinya di atas kertas tidak bakal terjadi malah kejadian :p Tidak ada sama sekali bahasan atau kupasan tulisan yang mendalam tentang kejadian itu, kenapa, mengapa itu terjadi dari kacamata si empunya blog.

Red carpet = nampilin yang bagus-bagus aja :D

Tidak berarti aku ga gitu :p
Ooo.. aku jelas termasuk orang yang nulis blog dengan metode nyaris sama dengan jalan di red carpet. Hanya saja mulai beberapa minggu ini aku mencoba untuk jujur & menulis apa adanya, baik & buruk kehidupanku di blog. Ga gampang karena perlu kejujuran & rasanya menelanjangi diri sendiri. Tapi untuk menulis & membuat tulisan yang baik (syukur-syukur bermutu), kita harus jujur kan?

Eh, ngomong-ngomong soal menulis, aku jadi inget teman sma-ku yang meng-claim dirinya berbakat menulis & bisa aja jadi penulis besar kalau bakatnya itu didalami (dia sedang dalam proses menggali kembali bakatnya yang selama ini dorman :p) Masalahnya, menurut aku, untuk menulis, kita perlu jujur & dia, seperti isi blognya dari dulu, ga jujur sama sekali :p


Sigh..


Tau deh.. gelapppp..
0 comments

Malas Menanam Pohon & Menyiram = Global Warming

Hampir setiap aku lewat jalan Affandi (dulu jalan Gejayan) & selokan mataram, juga sepanjang ring-road, rasanya panas matahari begitu terik menyengat. Aku punya angan-angan, sepanjang jalan itu, entah dikiri kanan atau disepanjang pembatas jalan, ada pohon-pohon rindang yang bikin sejuk & nyaman jalan.

Sebenarnya sudah beberapa kali disepanjang pembatas jalan Affandi & ring-road ditanami pohon-pohon, tapi selalu aja mati & akhirnya hanya menyisakan pembatas jalan yang gersang & panas. Aku tahu, kalau kita cuman mengandalkan Dinas Pertamanan pemkot DIY untuk mengatasi ini semua & menjadikan Jogja kota yang hijau dan sejuk, apalagi dengan adanya Global Warming sekarang, ini semua ga akan jalan. Sepertinya orang-orang di Dinas Pertamanan hampir tidak melakukan apa-apa, & pasti alasannya karena ketiadaan dana. Pertanyaannya, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan sebagai warga DIY untuk turun tangan mengatasi masalah ini?

Yang kita butuhkan jelas cuma 1 : Niat & Kemauan yang teguh.

Kalau kita punya itu, pasti semua keinginan kita bisa terwujud.

Kita bisa menyumbang uang untuk membeli bibit pohon yang cocok ditanam di sepanjang jalan itu. Karena panas, mestinya kita pilih sebangsa palem atau pinang. Kita bahkan bisa meminta bibit dari dinas kehutanan. Biasanya alah dikasih gratis.

Langkah selanjutnya : menyiram. Kita punya banyak sungai atau air limbah Rumah Tangga (tentu saja yang bebas detergen) sebagai sumber air yang bisa digunakan dinas pertamanan DIY untuk menyirami semua tanaman di sepanjang jalan tersebut. Masalahnya, sepertinya operasional mobil tersebut tidak setiap hari. Mungkin seminggu sekali atau 2 minggu sekali. Pasti alasannya karena terkendala biaya & alat operasional. Pasti mobil tangki airnya cuman 1-2 & biaya bensin melonjak yang menyebabkan operasional mobil tersebut ga bisa tiap hari :(

Sekali lagi, kita sebagai warga DIY bisa turun tangan. Kita selama ini cuma MALAS. Malas untuk peduli dengan lingkungan kita, padahal kita sehari-hari numpang hidup di bumi ini. Kita tidak mau memberi barang sedikit kebutuhan bumi, dan kita hanya mau mengambil hasil bumi sebanyak-banyaknya.

Simple aja kan sebenarnya. Kalau tiap orang membawa 1 gayung air (ga usah bicara air bersih, air selokan, air sungai atau air bekas limbah RT yang bebas detergen pun boleh) & dipakai untuk menyiram tanaman di sepanjang jalan di DIY ini, paling tidak tiap 2 hari sekali, pasti DIY akan jadi propinsi yang hijau & sejuk.

Seharusnya ini bisa dikoordinir ketua RT di lingkungan masing-masing. Masing-masing memiliki jadwal piket menyiram tanaman jalan & memiliki pohon asuh sendiri. Mereka bertanggung jawab atas pertumbuhan pohon tersebut.

Gampang.

Yang susah hanya : kemauan & niat. Kalah dengan rasa malas & alasan ribet. Padahal mereka bisa melakukannya di pagi hari sebelum ke kantor atau sembari jalan ke kantor masing-masing. Cuma 1 x siram tiap pohon..

Apa ada orang yang punya ide sama kaya aku?
Setidaknya yang punya kepedulian pada bumi ini & kemauan untuk berbuat.. ga hanya ngomong gede!
07 May 2008 0 comments

RBT

Sejak beberapa minggu kemarin, RBT hpku pake lagunya Tompi (sedari dulu). Kebetulan lagunya mayan bagus, meskipun aku ga begitu suka karakter vokal Tompi yang menurutku “atos”.

Niatan buat ngerubah RBT akhirnya terwujud gara-gara Aditya telp & protes :”Te, kok RBTnya pake Tompel sih? Apa bagusnya?” Hihihi.. “Mbok yao yang lain, apa kek, jablai kek” :p Enak aja!

Akhirnya aku ganti RBTku pakai punya Once (aku mau). Ini lirik T-O-P B-G-T deh! Two tumbs up! Lagi aku pertimbangkan buat jadi lirik kebangsaan. Soale, liriknya emang secara riil wajib tapi sekaligus mayan sulit dilakukan. Udah berapa juta pasangan yang kudu divorce hanya gara-gara salah satu pihak ga bisa ikhlas & legawa menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan. Maunya terima kelebihannya aja. Mana bisa, kan yang namanya manusia ga ada yang sempurna. Kalau mau sempurna, merit aja ntar pas udah di surga sama malaikat :p

Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggapku tak ada
Tapi tak akan merubah
perasaanku kepadamu

Kuyakin pasti suatu saat
Semua kan terjadi
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku

*
Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Slalu bersedia bahagianmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada

Kau boleh jauhi diriku
Namun ku percaya
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku

Aku ada

*

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Aku yang rela terluka untukmu selalu

*
 
;