28 December 2008

Terkecoh

:D

Ternyata banyak temanku yang terkecoh dengan tulisanku yang judulnya "The Two of Us". Mereka kira, semua yang aku tulis di blog ini, termasuk "The Two of Us" adalah tentang aku dan apa yang aku alami. Dan kebetulan isi tulisan "The Two of Us" memang "menggoda", terutama buat yang pikirannya peka hehehe..

Actually, tulisan itu bukan tentang aku, dan tidak seperti yang teman-temanku duga (mereka kira, itu cerita tentang percintaan & kata-kata "finally" disitu berarti making love :p) cerita itu bukan tentang aku dan aku ga berpikir "finally" disitu berarti making love :p

Tulisan itu diilhami dari pengalaman temanku. Sebut aja namanya si A. Si A ini udah married dan punya anak, dan lagi sekolah juga seperti aku, ninggalin keluarganya di Indonesia. Di negara tempat dia sekolah, dia ketemu si B, dan mereka jadi dekat. Awalnya dekat hanya sebagai sesama student, kolega, dan mempelajari topik yang mirip. Lama-lama kedekatan mereka menjadi bertambah dalam. Masing-masing dari mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari pasangan masing-masing. Mereka saling mengisi kekosongan jiwa & emosi.

So, "finally" dalam tulisanku merujuk ke arah istilah "jatuh cinta"

We talk,
We eat,
We talk,
We dance,
We talk,
and finally..

(kalau dilanjutin bisa aja ditulis : and finally.. we fall in love, tapi aku sengaja ga tulis karena jadinya ga bakalan seru)

Akhirnya.
Dia tersenyum, itu manusiawi katanya. Menurutku juga.
Tapi apakah selalu begitu? Dia mengendik, itu wajar, katanya.
Tapi bukankah kita bisa menghindarinya?

(maksudku, menghindari untuk menjadi semakin dekat, terikat dan tergantung satu sama lain. Mereka bisa mengurangi frekuensi bertemu, mengurangi frekuensi chatting dan lain-lain)

...

Aku tidak menyalahkannya, dan tidak berusaha menyalahkan diri sendiri. Aku tahu aku menginginkannya, dia menginginkannya.
(maksudku, menginginkan perasaan jatuh cinta ini)

Apakah kamu akan lari? Atau mencoba lari? Tanyanya tiba-tiba.
(maksudku, lari dari kenyataan bahwa mereka saling jatuh cinta, dan sebenarnya sudah menduakan pasangan masing-masing tanpa mereka sadari)

Dia tersenyum. Inilah akibat itu, katanya. Dan tidak perlu lari, kata dia selanjutnya. Karena kita manusia, ini manusiawi, dan aku menginginkannya, kamu menginginkannya.
(akibat disitu maksudnya adalah efek dari seringnya mereka ngobrol bersama, bertemu, saling memperhatikan.. jatuh cinta adalah hasil sampingan yang wajar terjadi)

and we talk,
We eat,
We talk,
We dance,
We talk
And it’s happened
Again..
(it's happened again maksudku merujuk pada kenyataan bahwa hal-hal seperti ini nyaris menjadi hal yang umum terjadi hampir disetiap perkawinan. Banyak godaan untuk berselingkuh, tidak perlu sampai melakukan aktivitas seksual, menduakan pasangan secara pikiran saja sebenarnya sudah termasuk berselingkuh. Coba hitung, seberapa sering frekuensi kita menghubungi pasangan dan bandingkan dengan seberapa sering kita menghubungi "si dia yang baru". Dari situ kita bisa melihat apakah kita sudah mendua atau tidak).






My room, Leiden. 9.35 CET

0 comments:

 
;