22 December 2008

Dari Bintang untuk Bulan.

Aku tahu, Bulan, bahasa tubuhmu tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa kamu suka dia. Walaupun kamu selalu dengan tegas tidak mengakuinya. Mungkin dia memang mengisi kekosongan hari-hari kamu, membuat warna lain yang tidak bisa kamu dapat dari pasanganmu. Kamu tidak bisa menyembunyikan itu dari aku. Aku tahu, karena aku perempuan juga seperti kamu.

Kata temanku, semua tidak akan terjadi kalau si perempuan tidak menanggapi, dan aku lihat, aku amati, kamu menanggapi semua perhatiaannya, semua cara pendekatannya kamu terima dengan tangan dan hati terbuka. Dan mulailah, entah kamu sadar atau tidak, kamu selalu merindukan perhatiannya.

Sedikit-sedikit dia. Itu yang aku amati. Kenapa tidak orang lain? Laki-laki yang lain? Kamu punya baju baru, dan bapak itu adalah orang yang pertama kali tahu. Kamu punya resep baru, dan orang pertama yang kamu pamerin masakan adalah bapak itu juga, dan jadilah kalian dinner berdua. Kamu menemukan lagu baru, bapak itu juga yang nomor satu dapat forward-nya. And vise versa. Dan rela chatting sampai dini hari, menjelang subuh. Dan menggunakan lagu pemberian si bapak itu sebagai lagu andalan di mobile phone-mu. Banyak lagu indah yang lain, tapi memang bila yang memberi adalah orang yang menurut kita spesial, lagu itu akan terdengar lebih indah dibanding lagu indah-lagu indah lainnya.

Aku tahu, Bulan, karena aku perempuan. Tapi aku tidak ingin menyalahkanmu dan menganggapmu buruk. Aku masih rancu dengan definisi selingkuh. Apakah selingkuh hanya bisa dipakai kalau kita sudah melanggar batas susila? Sepertinya definisi selingkuh lebih bijak diletakkan dari kaca mata suamimu. Sampai batas seperti apa dia menganggap istrinya selingkuh?

Dan aku juga tidak mau menyalahkanmu karena aku juga tidak bisa menjamin, suamimu tidak melakukan hal yang sama? Pernahkah kamu berfikir, dia melakukan hal yang sama sepertimu? Atau perempuan lain, melakukan hal yang sama sepertimu terhadap suamimu? Apa yang kamu rasakan?

Aku ingin bertanya padamu, Bulan. Apabila kita terpeleset dalam kubangan rasa sayang yang kita miliki untuk laki-laki lain atau perempuan lain selain pasangan kita, salahkah? Mungkin dari sisi kita, tidak. Egois lagi, karena kita hanya berfikir "yang penting aku merasa nyaman dengan emosiku, hatiku". Tapi mestinya tidak begitu bagi istri atau suaminya, anaknya.

Aku sudah lelah. Terlalu banyak moment-moment penuh ketidaksetiaan yang aku lihat pada diri orang-orang yang berpasangan, mereka tetap saja, selalu saja, pada waktu-waktu tertentu terjebak dalam godaan orang ketiga dalam hubungan mereka. Mengapa? Kadang aku nyaris mengalami disorientasi, nyaris mengamini bahwa hal tersebut wajar. Tapi tidak, itu tidak wajar. Seharusnya kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dengan ikhlas. Seharusnya kita bisa mengisi kekosongan emosi dalam waktu-waktu jauh dari pasangan, physically atau emotionally, dengan kegiatan yang lebih berguna, yang menyibukkan, tanpa harus berselingkuh darinya bahkan lewat pikiran. Bisa tidak kita menjaga pikiran kita, tidak hanya tubuh kita, bersih? Suci? Tulus? Setia?

Aku tidak punya jawabannya.

Aku tidak ingin terjebak dalam situasi yang sama. Kemarin aku merasakan cinta yang meluap-luap, dan sekarang rasanya sudah surut. Sudah aku tuang sebagian. Dan melihatmu, aku merasa.. maaf, muak. Aku sudah melewati masa-masa sepertimu, seharusnya aku bisa lebih bijak menerima bahwa kamu baru mulai masuk periode sulit dan tempting dalam hidup kamu, tapi inilah aku, yang aku sendiri merasa sebal dengan diriku sendiri.. egois. Tidak bisa sedikit saja berempati dan excuse dengan apa yang sedang kamu alami sekarang.

Aku ingin menjauh darimu Bulan, untuk sementara. Memberimu waktu untuk menyelami semuanya, dan pada akhirnya aku yakin akan berhenti di satu titik dengan penuh kebijaksanaan untuk menerima semua pelajaran hidup. Juga, memberiku ruang untuk bernafas dan menikmati waktu-waktuku dan menerima kekuranganmu, ketidaksempurnaanmu sebagai seorang perempuan, istri dan ibu.

Aku merasa bersalah menulis ini, karena sebenarnya aku tidak berhak, aku sendiri tidak bersih. Tapi at least aku berusaha bersih. Aku, dengan sekuat tenaga, berusaha bersih.

Aku pergi, Bulan. Sampai aku rasa kamu merasa damai dan berhenti mencari-cari sesutu diluar blessing maha indah dan besar yang sudah kamu dapat dari suami dan si kecilmu. Sampai aku menemukan Bulan yang dulu, temanku yang sangat baik :)



Mother's Day
The Netherlands 2008

0 comments:

 
;