18 December 2008

Jangan bicara

Aku menangis juga ternyata. Mula-mula merebak di pelupuk, lalu turun satu dua butir ke pipi. Tidak yakin karena sedih atau lega. Mungkin dua-duanya. Akhirnya aku melepas semua topeng dan emosi, dan menerima semua konsekuensi, harus bisa menerima, baik dan buruk.

Aku belajar dari kesalahan masa lalu, bertekad tidak akan mengulanginya. Ternyata aku selama ini tidak sadar, kalau emosi dipendam begitu lama, dia bisa keluar dengan sedikit berontak. Jadi aku putuskan untuk membiarkannya lepas, mencari bentuknya.

Jadi aku berharap kamu tidak berbuat apapun, dan sepertiku, membiarkan emosi itu lepas & bebas.

Logika itu masih seperti kaca yang aku tengok setiap hari. Aku tidak melulu melihat emosiku. Jadi aku tahu semua akibatnya, semua yang mungkin dan tidak mungkin. Jadi jangan bicara apapun.

Just let it flow.

I want to release it.

Biarkan saja.. Please..

Kalau kamu tidak mau, biarlah.

Karena aku sudah lelah ternyata, membawa emosi ini tanpa menyadarinya..



Leiden, IBL, my bench, 11.57 CET

0 comments:

 
;