31 May 2006

Sharing pengalaman saat gempa..

Berikut sharing email dari rekan2 dosen UGM yang menceritakan kejadian saat gempa terjadi.
Howdy,
Tadi pagi (Sabtu 28 Mei pagi), ketika baru menjawab e-mail tentangINHERENT di lantai dua rumah saya, gempa yang katanya 5,9 skala Richter terjadi. Dengan panik saya lari ke lantai satu dan mengajak ibu saya untukkeluar. Keluarga saya yang lain sudah berada di luar, karena kebetulan mereka sedang berada di lantai 1. Walaupun cuma sesaat, waktu yang dibutuhkanuntuk lari> dari lantai 2 ke lantai 1 dan kemudian keluar, namun saya sudahpasrah waktu itu, karena seluruh rumah berbunyi berdecit semuanya. Saya kira akan runtuh rumah saya.
Sampai di luar rumah, seluruh penghuni RT/RW di kampung saya keluar ke jalan; kecemasan jelas terbayang di wajah kami semua. Saya bersyukurada di tengah keluarga. Setelah sampai di jalan depan rumah, saya sudah pasrah, andaikan bencana besar yang terjadi, saya jelas berbahagia karena dapat menghadapinya bersama seluruh keluarga saya. Suatu kepasrahan yang sudah lama tidak saya rasakan. Saya membayangkan menghadap Sang Illahi bersama-sama dengan keluarga yang saya cintai. Pagi itu tadi, saya mendapatkan kembali perasaan pasrah dan bahagia secara bersamaan. Aku menitikkan air mata saat menulis ini. That time was a healing momentfor me.
Alhamdulillah, seluruh keluarga saya masih diberi perlindungan-NYA, sehat tidak kurang suatu apapun. Lebih bersyukur lagi saya bisa mengalami kepasrahan yang luar biasa saat itu. Terlalu sering menggunakan akal membuat saya jarang menjumpai kepasrahan semacam ini. That was a preciousmoment for me.
Berapa menit kemudian, kepanikan menyusul, banyak orang yang menujuke arah utara untuk menghindari air. Pengalaman traumatik kita semua melihat tsunami Aceh, seolah terulang lagi. Semua panik, jalan di depan rumah saya menjadi penuh sepeda motor kearah utara. Mereka panik dan tidak menyadari bahwa laut sangat jauh dan beda tingginya sangat besar, sehingga tidak mungkin tsunami semacam Aceh terjadi di Yogyakarta.
Saya sangat kuatir dengan kegiatan lempeng tektonik di sekitarIndonesia, mengingat keaktifannya beberapa tahun ini meningkat. Mulai dari Aceh, kemudian merembet ke selatan. Namun bagaimana saya harus menghadapinya, gempa tektonik dengan skala besar, jika terjadi ... saya hanya bisa pasrah... Akal sehat saya mengatakan jika mau menghindari, mungkin optionnya harus pindah dari Yogyakarta dan mencari pulau yang lebih aman, katakanlah Kalimantan, atau pindah negara. In both cases, I prefer stay at Yogyakarta dengan kepasrahan.
Semoga hari-hari yang indah masih dapat menyertai kota Yogyakarta.
Howgh!
Djoko Luknanto
Assalamu'alaikum
Ada baiknya Pak Rektor atau siapapun berinisiatif mendata seluruh dosen/karyawan UGM and mahasiswa yang menjadi korban gempa. Saya kirabanyak yang tinggal di Bantul. FYI, rumah yang ditempati Pak Suwardo (dosen diploma teknik sipil) di Bantul roboh. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Keluarga saya sendiri yang di Rejodani (monjali ngalor 5km) alhamdulillah jg selamat, bangunan tdk rusak.
Abdul Basith
Saya lebih panik lagi, dan seribu pikiran buruk mengisi kepala kami. Saat ini saya berada di Jerman dan tidak mengalami peristiwa itu. Tapi sungguh menjadi gusar dan khawatir dengan keluarga kami. Anak-anak saya yang masih kecil, gimana perasaan mereka saat menyaksikan dan mengalami semua kesulitan itu. Saat ini mereka mengungsi, karena rumah kami runtuh dan perlu perbaikan. Hampir se Imogiri rumah rusak dan roboh. Ya Alloh berikan kekuatan utntuk mereka semua.......
Endang lukitaningsih.
Telah meninggal dunia Bapak Waris Santosa dosen Teknik Fisika. Beliau adalah dosen yang sangat kreatif, sedang mengambil S3 di ITB. Menurut informasi, beliau sedang pulang ke keluarga beliau yang tinggal di Bantul dan meninggal karena tertimpa tembok, dan langsung dimakamkan. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya.
Sebagai teman yg cukup akrab dg pak waris apalagi satu KBK, berita ini tentu mengagetkan. Berikut berita ttg pak Waris dari mailis alumni teknik nuklir yg bersumber dari cerita mbak Wibie (istri pak waris) dan saudara-saudara Pak Waris yang saat itu berada di RS DKT :
Saat gempa terjadi Pak Waris dan Mbak Wibie sedang berada di teras rumah. Untuk menghindari kemungkinan runtuhnya rumah, Pak Waris dan Mbak Wibie berlari ke halaman, terus menuju jalan dan mencari tanah lapang di sebuah SMP yang letaknya tidak jauh dari rumah. Tiba-tiba pagar tembok SMP yang berada di dekat mereka roboh dan mengubur Pak Waris serta Mbak Wibie. Pak Waris meninggal di tempat, sedangkan Mbak Wibie terluka cukup parah di bagian mata sebelah kanan. Bayinya, Alhamdulillah selamat (saat ini Mbak Wibie sedang hamil (+-) 3 bulan)
Besok, Senin 29 Mei 2006 pukul 11.00 Mbak Wibie akan berangkat ke Bogor (info terakhir: mbak sudah ke bandara, dan pesawat akan berangkat jam 15.00). Kepulangan Pak Waris dan Mbak Wibie ke Jogja dalam rangka pamitan kepada keluarga Pak Waris yang berada di Pundhong, Bantul. Dikarenakan usia kehamilan yang cukup tua saat lebaran nanti, Pak Waris dan Mbak Wibie menyempatkan untuk pulang sekarang. Datang hari Kamis dan merencanakan pulang ke Bogor hari Sabtu malam. Tiket juga sudah dibeli. Tapi apa daya, Allah berkehendak lain. Pak Waris lebih dulu berangkat menemui Rabb-nya. Mbak Wibie titip pesan, kalau ada ucapan atau tindakan Almarhum yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Beliau juga meminta do'a dari teman-teman sekalian untuk Almarhum.

Hawibowo singgih


Laboratorium Geofisika kehilangan satu jiwa yaitu isteri dari Catur Joko Teknisi Lab. Beliau tinggal di Prambanan perbatasan Klaten/Jogja. InnaliLLAHI wa inna ilaihi rojiun.

Kirbani SB.

Bapak & Ibu warga UGM yang sedang berduka, Seperti kita ketahui, cukup banyak karyawan, mahasiswa, dan dosen kita yang tinggal di daerah Bantul. Menurut info yang kami terima, sudah cukup banyak keluarga kita yang menjadi korban. Untuk mendata secara lebih cermat, sejak tadi malam telah dibuka Posko UGM untuk Bencana, di Bulaksumur A-11; no. telp (649)1234. Mohon info-info tentang korban keluarga kita dapat dilaporkan ke alamat di atas; atau ke milis ini, agar kami dapat mendatanya. Posko juga bertugas mengkoordinasi bantuan UGM, yang akan dikonsentrasikan di desa Trimulyo. Sejak kemarin, mahasiswa kita (BEM & UKM) sudah terjun ke lapangan, berjumlah sekitar 170 orang. Untuk 7 hari ke depan, sambil menyiapkan dapur-dapur umum di lokasi, UGM akan mensupply makanan (nasi bungkus) untuk sekitar 2.500 penduduk setempat. Selain program di atas, bantuan medis juga diprovide UGM, di bawah komando GMC dan F. Kedokteran, dan dalam jangka 2 minggu ke depan, akan dilaksanakan program perbaikan hunian (pak Nizam mohon dapat menshare info lebih detil).Mohon dukungannya, agar semua berjalan lancar, dalam rangka turut meringankan beban saudara2 kita yang terkena musibah. Salam kedukaan.
Suryo Baskoro.

0 comments:

 
;