02 May 2005

Huhuuyyy... Seru!!!

Rektor UGM Batalkan Upacara Hari Pendidikan


Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Sofian Effendi membatalkan upacara Hari Pendidikan Nasional yang semestinya dilaksanakan Senin (2/5) ini. Pembatalan tersebut diduga karena adanya ancaman demonstrasi para dosen yang memprotes kenaikan gaji yang mereka nilai tidak adil.
Sebelumnya, Rektor UGM telah membuat surat resmi kepada seluruh jajarannya untuk mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di halaman kantor pusat. Namun, kemudian terbit surat edaran yang berisi pembatalan.
“Kami sudah mendengar rektor membatalkan upacara Hardiknas. Tapi kami tetap akan menggelar upacara keprihatinan sebagai tanda tidak ada keadilan di UGM,” kata Arie Sujito, salah satu koordinator dosen yang memprotes kebijakan rektornya, kepada Tempo, Minggu (1/5). “Demokrasi di kampus ini sudah mati. Kami justru heran, hanya karena diprotes saja, rektor membatalkan upacara Hardiknas.”
Sofian Effendi, Selasa (26/4) lalu mengeluarkan surat nomor 1983/P/TURT/2005 tentang upacara peringatan Hardiknas. Rektor meminta majelis wali amanat, majelis guru besar, para wakil rektor, para dekan, dan karyawan untuk mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional, Senin (2/5) pukul 08.00 WIB di halaman kantor pusat UGM.
Namun, Sabtu (30/4), rektor mengumpulkan para pimpinan fakultas untuk mengantisipasi kemungkinan protes para dosennya. “Atas berbagai pertimbangan, akhirnya upacara peringatan Hardiknas dibatalkan,” kata salah seorang pimpinan fakultas di UGM.
Seperti tertulis dalam surat nomor 151/HMK/2005 tertanggal 30 April 2005 yang ditujukan kepada media massa, pembatalan dilakukan berdasar Surat Edaran Nomor 2052/P/Set-Eksekutif/2005 yang dibuat pada hari yang sama. Isinya, upacara Hardiknas di UGM dibatalkan karena UGM akan menggabungkan diri dalam upacara yang digelar Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Itu alasan yang mengada-ada. Sejak dulu UGM menggelar upacara sendiri dan pemerintah provinsi juga menggelar upacara sendiri. Kalau sekarang tiba-tiba UGM membatalkan, itu jelas bentuk ketakutan rektor,” kata Arie Sujito, dosen dengan pangkat lektor di Fisipol UGM.
Sejumlah dosen UGM memprotes Surat Keputusan Rektor UGM tentang kenaikan gaji yang akan berlaku Mei 2005 ini. Buntut protes tersebut, sebagian dosen mulai ogah-ogahan mengajar. Mereka juga akan menggelar unjuk rasa bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, Senin ini.
“Yang kami persoalkan kenapa insentif rektor, wakil rektor, dekan, dan wakil dekan bahkan para pejabat struktural lainnya hingga 400 persen, sementara para dosen dan karyawan lain hanya 25 sampai 40 persen,” kata dosen Fakultas Pertanian UGM, Dr. Irfan Priyambodo. Ia mengingatkan, UGM adalah lembaga pendidikan, bukan perusahaan, semuanya harus disampaikan secara transparan.
Protes serupa juga disampaikan Dr. Heru Nugroho, dosen senior di jurusan sosiologi. “Resistensi di kalangan dosen dan karyawan UGM semakin kelihatan. Persoalannya, kami diperlakukan tidak adil dan tidak ada transparansi mengenai kenaikkan gaji,” dia mengungkapkan.
Wakil Rektor Senior Bidang Administrasi UGM Prof. Dr. Marwan Asri, MBA mengakui adanya kenaikan gaji hingga 400 persen bagi pejabat struktural di peguruan tingginya, dari rector, wakil rector, hingga dekan. Pertimbangannya, kata dia, jam kerja dan tanggung jawab para pejabat tersebut semakin berat dengan status UGM sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN).
“Memang mencapai sebesar itu, tetapi pejabat struktural dituntut punya komitmen penuh. Waktunya 100 persen hanya untuk menjadi pejabat struktural di UGM, tidak boleh mancari sampingan yang lain,” dia berdalih.
Marwan menilai, mereka yang akan mogok hanya melihat perbedaan dari struktural dan non-struktural. Padahal dengan status BHMN, tugas seorang dekan jauh lebih berat sehingga wajar jika dinaikkan cukup besar dibanding yang lain. “Kenaikan ini tidak dipukul rata untuk setiap dekan. Dari 18 fakultas yang ada, hanya tiga dekan yang dinaikkan insentifnya menjadi Rp 12,5 juta per bulan. Sedang dekan yang lain ada yang Rp 10 juta dan Rp 9 juta, tergantung beban masing-masing,” tuturnya. (Syaiful Amin)
______________________________
From : TEMPO Interaktif, Yogyakarta Senin, 02 Mei 2005 06:30 WIB

0 comments:

 
;