05 March 2005

Ustaz di Kampung Maling


Ungkapan yang terasa segar & "asli" tiba-tiba membahana di ruang sidang DPR. Namun ungkapan ustaz di kampung maling itu ditanggapi terlalu emosional oleh jaksa agung yang menjadi sasaran.
Sebenarnya, alangkah baiknya jika jaksa agung yang dijadikan bulan-bulanan itu tidak langsung naik pitam. Sebelum marah, beliau dapat bertanya, baik secara serius ataupun bercanda.

Pertanyaan pertama, apakah ungkapan itu dimaksudkan kepada jaksa agung di "kampungnya" (lingkungan kejaksaan). Jika itu yang dimaksud, beliau seyogyanya berterima kasih karena hingga saat itu tidak ada yang secara terus terang menuding kejaksaan sebagai kampung maling.

Pertanyaan kedua, apakah yang dimaksudkan adalah peristiwa saat itu, ketika jaksa agung berada di lingkungan DPR. Jika itu yang dimaksud, beliau pun seharusnya berterima kasih karena itu merupakan pengakuan yang tulus dan jujur dari anggota DPR yang terhormat itu. Petunjuknya cukup banyak : dimana-mana pemimpin dan anggota DPR(D) dijadikan tersangka korupsi.

Namun masih ada pertanyaan ketiga. Karena di seluruh negara hanya ada seorang jaksa agung, apakah ungkapan itu tidak harus dimaknai bahwa sebenarnya kampung maling itu ya negara kita sebagai suatu keutuhan? Jika ini yang dimaksud, kita semua benar-benar dalam situasi yang sangat gawat. Sebaliknya, jaksa agung menjadi satu-satunya tumpuan harapan agar beliau tidak ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukan oleh (sebagian) warga kampung itu.


__________________________________
By : Ayatrohaedi, Depok. From : Rubrik Bahasa, Kompas, Saturday 5 Maret 2005, p.12.
I wrote the same subject to my another blog : http://kupu-biru.blogspot.com/

0 comments:

 
;