Pas nonton Kick Andy episode "Harmoko" Kamis malam kemarin (tgl 15), aku terkesan dengan kemampuan beliau yang bisa menempatkan diri sesuai situasi, apakah dalam kapasitas menjadi teman dekat Alm. Pak Harto, ketua DPR atau ketua Golkar atau pribadi? Konsekuensinya memang beliau akhirnya di cap : plin-plan, oportunis, menusuk dari belakang (Alm. pak Harto), bermuka dua etc.. Bayangkan, dulu beliau terkenal dekat dengan Alm. Pak Harto, tapi belakangan hari, beliau justru orang pertama yang meminta Alm. pak Harto lengser.
Pak Harmoko menyatakan, dalam situasi saat itu, dia sebagai pribadi maupun dalam kapasitas jabatannya, harus berlaku arif & bijaksana & mampu memandang semua permasalahan tidak dalam lingkup sempit. Beliau harus bisa melihat dengan jernih permasalahan yang timbul kala itu dari perspektif pribadi, beliau sebagai orang dekat Alm. Pak Harto, beliau sebagai ketua DPR, beliau sebagai ketua Golkar dan mengambil keputusan bijak, yang terbaik dari yang terbaik, dalam hal ini, beliau jelas harus mengedepankan tuntutan rakyat Indonesia saat itu menuntut Alm. Pak Harto lengser) dan mengesampingkan pandangan pribadinya yang lain, demi terciptanya kondisi sosial politik negara yang terkendali & aman.
Well, memang sulit nyari orang yang bisa zakelijk seperti beliau. Tapi, hehehe.. ga usah jauh-jauh, aku termasuk orang yang seperti beliau. Aku ga tahu ini aku dapat dari mana & sejak kapan, tapi seingatku, sejak dari aktif di BEM & Senat jaman S1 dulu, aku sudah bisa memutuskan segala sesuatu dengan zakelijk (baca : tanpa terpengaruh emosi). Aku udah pernah mempromosiin orang untuk duduk di suatu kepanitiaan padahal dia musuh bebuyutanku, hanya karena : he's good & sangat capable untuk posisi itu. Sebaliknya juga pernah, aku pernah melengserkan teman dari posisinya di kepanitiaan meskipun dia temen deket aku banget, hanya karena dia ga bertanggungjawab dengan pekerjaannya & bikin semuanya kacau balau.
Orang-orang dekatku sudah tahu kapasitasku yang satu ini.
Aku ga tahu apa aku pantas juga dibilang obyektif? Dan aku juga ga peduli. Aku cuma melakukan apa yang saat itu harus aku lakukan. Seringkali, kita berada dalam situasi, harus mengambil keputusan obyektif dan sama sekali ga bisa pake unsur-unsur KKN.
Pak Harmoko menyatakan, dalam situasi saat itu, dia sebagai pribadi maupun dalam kapasitas jabatannya, harus berlaku arif & bijaksana & mampu memandang semua permasalahan tidak dalam lingkup sempit. Beliau harus bisa melihat dengan jernih permasalahan yang timbul kala itu dari perspektif pribadi, beliau sebagai orang dekat Alm. Pak Harto, beliau sebagai ketua DPR, beliau sebagai ketua Golkar dan mengambil keputusan bijak, yang terbaik dari yang terbaik, dalam hal ini, beliau jelas harus mengedepankan tuntutan rakyat Indonesia saat itu menuntut Alm. Pak Harto lengser) dan mengesampingkan pandangan pribadinya yang lain, demi terciptanya kondisi sosial politik negara yang terkendali & aman.
Well, memang sulit nyari orang yang bisa zakelijk seperti beliau. Tapi, hehehe.. ga usah jauh-jauh, aku termasuk orang yang seperti beliau. Aku ga tahu ini aku dapat dari mana & sejak kapan, tapi seingatku, sejak dari aktif di BEM & Senat jaman S1 dulu, aku sudah bisa memutuskan segala sesuatu dengan zakelijk (baca : tanpa terpengaruh emosi). Aku udah pernah mempromosiin orang untuk duduk di suatu kepanitiaan padahal dia musuh bebuyutanku, hanya karena : he's good & sangat capable untuk posisi itu. Sebaliknya juga pernah, aku pernah melengserkan teman dari posisinya di kepanitiaan meskipun dia temen deket aku banget, hanya karena dia ga bertanggungjawab dengan pekerjaannya & bikin semuanya kacau balau.
Orang-orang dekatku sudah tahu kapasitasku yang satu ini.
Aku ga tahu apa aku pantas juga dibilang obyektif? Dan aku juga ga peduli. Aku cuma melakukan apa yang saat itu harus aku lakukan. Seringkali, kita berada dalam situasi, harus mengambil keputusan obyektif dan sama sekali ga bisa pake unsur-unsur KKN.
Beberapa minggu yang lalu, kejadian serupa terulang. Kami sekantor harus memutuskan nasib seorang rekan kerja yang ingin mengisi 1 posisi di kantor kami. Kebetulan aku lumayan deket dengan dia (sebut aja : Dita). Dia teman yang baik. Dan kebetulan di rapat itu, aku salah 1 dari sekian banyak orang yang tidak setuju dia menempati posisi tersebut, bukan karena aku ada masalah dengan Dita, atau karena Dita ga capable (oo.. Dita bagus & capable), tapi karena kami memerlukan orang lain dengan kualifikasi yang lebih spesifik (baca : kualifikasi X) & karena jatah kantor kami hanya 1 orang, kalau kami menerima Dita, maka bila saatnya nanti tiba kami memerlukan orang dengan kulifikasi X tersebut, jatah kami sudah tidak ada. Gawat itu! Lain halnya bila jatah kami 2 orang, maka kami masih bisa menerima 1 orang dengan kualifikasi X sekaligus menerima Dita. Dan di rapat itu aku termasuk salah 1 yang bilang : "sementara ini : ditolak". Cuman 2 orang yang memberi suara mendukung Dita : 1, kepala kantorku, dengan alasan yang beliau sampaikan dengan sangat jelas di rapat : Kasihan, karena umur Dita sudah mepet, kalau Dita tidak diterima sekarang, tahun depan Dita tidak bisa apply posisi yang sama lagi". 1 lagi suara dari mantan kepala kantorku, alasannya : "karena Dita capable, semua tugas proyek yang Dita kerjakan berhasil dikerjakan dengan baik", dan untuk ini aku dan salah satu rekan setuju untuk mengcounter bahwa sebenarnya Dita tidak 100% menjiwai pekerjaannya karena salah satu tugas yang menjadi tanggungjawab Dita untuk dikerjakan, ternyata tidak dikerjakan dengan baik & sungguh-sungguh & hasilnya mengecewakan (kalau di audit selalu banyak teguran atas keburukan yang timbul).
Efeknya langsung jelas terlihat, entah Dita tahu sendiri karena ada orang yang memberitahu hasil rapatnya atau dengan menebak-nebak sendiri. (Menurutku wajar kalau ketahuan dia gagal karena kalau Dita berhasil dapat posisi itu mestinya setelah rapat selesai, akan langsung banyak orang yang memberinya ucapan selamat, tapi kali ini ga). Yang jelas setelah itu Dita & aku agak renggang hehehehe.. Aku ga tahu apa ini Dita sengaja menjauh atau enggak, aku juga baru nyadar sekarang setelah salah satu rekanku nanyain, kenapa Dita sekarang jarang haha-hihi sama aku. Aku ga terlalu nyadar sebelumnya karena belakangan aku memang sibuk sendiri dengan urusanku dan ga sempat haha-hihi kaya dulu. Yang jelas aku ga ngerasa punya feeling yang beda ke Dita. Tetep sama aja kaya dulu. Tapi kalau Dita menganggap, pendapatku pas di rapat mempengaruhi ditolaknya dia menempati posisi di kantor, aku rasa salah. Karena tanpa suaraku menolak pun, yang memberikan suara menolak sudah 6 suara (7 orang sama aku), lawan 4 suara abstain & 2 suara mendukung. Tanpa aku bilang tidak pun, Dita tetep ditolak. Dan aku tetap sibuk & ga sempat haha-hihi lagi..
So?
Ya.. kata temanku, situasi yang agak ga enak tapi demi kebutuhan kantor, we have to choose the right one :D
So, accept it!
Efeknya langsung jelas terlihat, entah Dita tahu sendiri karena ada orang yang memberitahu hasil rapatnya atau dengan menebak-nebak sendiri. (Menurutku wajar kalau ketahuan dia gagal karena kalau Dita berhasil dapat posisi itu mestinya setelah rapat selesai, akan langsung banyak orang yang memberinya ucapan selamat, tapi kali ini ga). Yang jelas setelah itu Dita & aku agak renggang hehehehe.. Aku ga tahu apa ini Dita sengaja menjauh atau enggak, aku juga baru nyadar sekarang setelah salah satu rekanku nanyain, kenapa Dita sekarang jarang haha-hihi sama aku. Aku ga terlalu nyadar sebelumnya karena belakangan aku memang sibuk sendiri dengan urusanku dan ga sempat haha-hihi kaya dulu. Yang jelas aku ga ngerasa punya feeling yang beda ke Dita. Tetep sama aja kaya dulu. Tapi kalau Dita menganggap, pendapatku pas di rapat mempengaruhi ditolaknya dia menempati posisi di kantor, aku rasa salah. Karena tanpa suaraku menolak pun, yang memberikan suara menolak sudah 6 suara (7 orang sama aku), lawan 4 suara abstain & 2 suara mendukung. Tanpa aku bilang tidak pun, Dita tetep ditolak. Dan aku tetap sibuk & ga sempat haha-hihi lagi..
So?
Ya.. kata temanku, situasi yang agak ga enak tapi demi kebutuhan kantor, we have to choose the right one :D
So, accept it!

0 comments:
Post a Comment