Belakangan tiap baca koran, lihat berita atau denger curhat sodara-sodara di Jakarta soal macet di jalan-jalan Jakarta yang gila-gilaan, mau ga mau aku bersyukur karena disini belum ada macet seperti di Jakarta. Aku ga bisa ngebayangin, gimana bisa orang mau kerja, atau anak-anak mau sekolah kudu stress dulu sebelumnya gara-gara macet. Apa ya masih bisa mikir di sekolah & di kantor? Apa masih bisa produktif? Kayanya kok enggak.
Aku pernah baca di Kompas, sudah agak lama, tentang batavia tempo dulu. Jaman Belanda masih menjajah, di Batavia ada public transport berupa trem. Sayangnya begitu Indonesia merdeka, pemerintahan Presiden Soekarno menghapus trem (Alasannya, trem itu ga gaya! Halah.. alasan keliru gitu kok ya diikutin!) dan menggantinya pake bus, yang nyata-nyata punya daya angkut terbatas dan sama sekali ga ramah lingkungan. Belum lagi pengemudinya yang asal bisa nyupir tanpa punya aturan moral, kedisiplinan dan ketaatan mengemudi dan merawat kendaraannya.
Aku jadi sering ngayal, kalau diminta bikin tata ruang suatu wilayah kota, aku pengennya bikin set-nya dari awal banget, mulai dari menentukan area pemukiman untuk warga di tengah kota dengan taman-taman, arena rekreasi keluarga, sekolah & lokasi untuk hypermarket / pasarnya. Di bagian tepi kota ada hunian untuk kalangan menengah ke atas yang bisa bikin rumah gede-gede plus kolam renang pribadi. Area paling luar buat industri. Dari bagian tengah kota ke pinggir kota diatur berurutan & merata bank & kantor pemerintahan. Jadinya rata, ga semua daerah perkantoran terpusat & tumplek blek di tengah kota seperti di Jakarta.
Trus kudu ada pembatasan kendaraan (mobil & motor) pribadi. Bikin aja harga & pajaknya selangit. Bikin juga test buat dapet SIMnya susah kaya di Amrik, ga kaya disini yang "nembak" aja juga bisa dapet SIM.
Lebar jalan juga kudu dibagi-bagi : buat area pedestrian & ditanamin pohon-pohon peneduh di kiri-kanannya, atau dibikinin model pergola dengan tanaman rambat yang bikin orang bisa enjoy jalan kaki, ga kepanasan & kehujanan; buat jalur sepeda kaya di Belanda sana; jalur trem & jalur bis (busway) & mobilnya. Jalur trem, mobil & bis dibuat sedemikian rupa supaya tiap jalan dibuat satu arah, kecuali beberapa jalan aja yang memang ukurannya sudah sangat lebar & memungkinkan dibuat 2 jalur kendaraan bermotor. Kalau naik bis & masih kudu disambung jalan kali beberapa blok, asal area pedestriannya nyaman, pasti orang juga enjoy jalan kaki, sekalian olah raga kan..
Dan satu lagi yang paling penting, sistem hukumnya juga kudu dirombak. Ga melempem kaya sekarang. Perpaduan antara penegakan hukum, disiplin dan penerapan denda & hukuman yang tinggi buat pelanggar hukum & peraturan terbukti ampuh & efektif menciptakan situasi yang teratur & terkendali. Di Belanda, orang-orang sana pada takut dengan denda yang tinggi kalau ketahuan ga ngikutin peraturan & tata tertib. Contohnya nih, kalau naik kereta ga tiap kali ada pemeriksaan tiket oleh kondektur, tapi sekali-kalinya ada pemeriksaan dan ketahuan ga beli tiket, dendanya bisa 20x lipat atau bisa diturunin di tengah jalan. Disana, orang-orang bener-bener bisa jujur dan disiplin di segala bidang. Beda banget sama model orang Indonesia :(
Kasus di Jakarta (mungkin kota-kota lain belum separah Jakarta, tapi kalau dibiarin, lama-lama juga bakalan seperti Jakarta), balik-baliknya adalah ke mental orang Indonesianya. Manja, mau gampangnya aja, cuma mikirin udelnya sendiri, meremehkan hal-hal kecil & jauh dari disiplin diri. Makanya hukum ga bisa berdiri tegak, bisa dikiyak-kiyuk pake duit!
Aku pernah baca di Kompas, sudah agak lama, tentang batavia tempo dulu. Jaman Belanda masih menjajah, di Batavia ada public transport berupa trem. Sayangnya begitu Indonesia merdeka, pemerintahan Presiden Soekarno menghapus trem (Alasannya, trem itu ga gaya! Halah.. alasan keliru gitu kok ya diikutin!) dan menggantinya pake bus, yang nyata-nyata punya daya angkut terbatas dan sama sekali ga ramah lingkungan. Belum lagi pengemudinya yang asal bisa nyupir tanpa punya aturan moral, kedisiplinan dan ketaatan mengemudi dan merawat kendaraannya.
Aku jadi sering ngayal, kalau diminta bikin tata ruang suatu wilayah kota, aku pengennya bikin set-nya dari awal banget, mulai dari menentukan area pemukiman untuk warga di tengah kota dengan taman-taman, arena rekreasi keluarga, sekolah & lokasi untuk hypermarket / pasarnya. Di bagian tepi kota ada hunian untuk kalangan menengah ke atas yang bisa bikin rumah gede-gede plus kolam renang pribadi. Area paling luar buat industri. Dari bagian tengah kota ke pinggir kota diatur berurutan & merata bank & kantor pemerintahan. Jadinya rata, ga semua daerah perkantoran terpusat & tumplek blek di tengah kota seperti di Jakarta.
Trus kudu ada pembatasan kendaraan (mobil & motor) pribadi. Bikin aja harga & pajaknya selangit. Bikin juga test buat dapet SIMnya susah kaya di Amrik, ga kaya disini yang "nembak" aja juga bisa dapet SIM.
Lebar jalan juga kudu dibagi-bagi : buat area pedestrian & ditanamin pohon-pohon peneduh di kiri-kanannya, atau dibikinin model pergola dengan tanaman rambat yang bikin orang bisa enjoy jalan kaki, ga kepanasan & kehujanan; buat jalur sepeda kaya di Belanda sana; jalur trem & jalur bis (busway) & mobilnya. Jalur trem, mobil & bis dibuat sedemikian rupa supaya tiap jalan dibuat satu arah, kecuali beberapa jalan aja yang memang ukurannya sudah sangat lebar & memungkinkan dibuat 2 jalur kendaraan bermotor. Kalau naik bis & masih kudu disambung jalan kali beberapa blok, asal area pedestriannya nyaman, pasti orang juga enjoy jalan kaki, sekalian olah raga kan..
Dan satu lagi yang paling penting, sistem hukumnya juga kudu dirombak. Ga melempem kaya sekarang. Perpaduan antara penegakan hukum, disiplin dan penerapan denda & hukuman yang tinggi buat pelanggar hukum & peraturan terbukti ampuh & efektif menciptakan situasi yang teratur & terkendali. Di Belanda, orang-orang sana pada takut dengan denda yang tinggi kalau ketahuan ga ngikutin peraturan & tata tertib. Contohnya nih, kalau naik kereta ga tiap kali ada pemeriksaan tiket oleh kondektur, tapi sekali-kalinya ada pemeriksaan dan ketahuan ga beli tiket, dendanya bisa 20x lipat atau bisa diturunin di tengah jalan. Disana, orang-orang bener-bener bisa jujur dan disiplin di segala bidang. Beda banget sama model orang Indonesia :(
Kasus di Jakarta (mungkin kota-kota lain belum separah Jakarta, tapi kalau dibiarin, lama-lama juga bakalan seperti Jakarta), balik-baliknya adalah ke mental orang Indonesianya. Manja, mau gampangnya aja, cuma mikirin udelnya sendiri, meremehkan hal-hal kecil & jauh dari disiplin diri. Makanya hukum ga bisa berdiri tegak, bisa dikiyak-kiyuk pake duit!

0 comments:
Post a Comment