
Salah satu seniorku berencana mengundurkan diri karena dilarang langsung mengambil postdoc selesai S3nya (setahuku, peraturan yang berlaku memang mengharuskan student pulang dulu setelah selesai S3, dan setelah di Indo beberapa tahun baru boleh mengambil postdoc). Kasus ini baru akan dibicarakan di bagian nanti siang, apakah akan disetujui atau tidak.
Pas kemarin bahas masalah itu dengan satu kolega seniorku dan 2 rekan sejawat lainnya, aku nyeletuk : "kalau saya, ga akan mengundurkan diri gara-gara ga boleh langsung postdoc, tapi karena merit..." Hihihi... teman-temanku itu pada protes berat, katanya : "Wah, bahaya nih! Kalau gitu ini kudu jadi misi bagian, mencarikan suami buat Bu Sylv, biar ga kabur dari sini juga!"
Hahaha.. ada-ada aja! But the truth is, kalau dibuat priority ranking, nyari suami itu ada di list paling bontot dari list prioritasku saat ini. Menurutku lebih save dan lebih mudah S3 dulu & ngurusin karir. Itu lebih "pasti" ketimbang nyari suami. Nyari suami buat seumuran aku & dengan kondisi aku saat ini ga semudah dibanding jaman dulu pas masih baru lulus kuliah S1. Sekarang tuntutannya lain dan jauh lebih complicated dan itu ga mudah. Sekarang tuntutannya ga hanya mayoritas physically kudu oke, tapi sudah harus imbang antara fisik, moral, isi kepala dan isi dompet.. hahaha.. Asal klik aja sih sebenarnya, cuman orang yang bisa di klik itu emang rada langka. Anyway, aku udah nyaman being single kok..

0 comments:
Post a Comment