Dear All,
Saya mendapat info agar para pengguna ponsel berhati-hati untuk tidak penggunakan telinga kanan guna mendengarkan HP karena dapat merusak otak kanan. Silakan cek melalui citra yang saya attach.
Jika diseksamai mungkin himbauan itu ada benarnya dengan beberapa pengetahuan sebelumnya. Otak kiri berkaitan dengan kemampuan intelektual, dan otak kanan berkaitan dengan motorik (ketrampilan) . Khabarnya, gelombang radio pada HP dapat mempengaruhi otak kanan (melalui telinga kanan) sehingga selanjutnya dapat mempengaruhi fungsi gerak. Maka, fungsi gerak bisa mengalami malfunction, kejang, keram, dll (termasuk impotensi :=))
Karena itu disarankan hanya mendengarkan dengan telinga kiri. Alasannya adalah:
1. Sesuai dengan saran ungkapan leluhur: "masuk telinga kiri, keluar telinga kanan". Maknanya, memang aliran informasi itu dari kiri ke kanan, bukan dari kanan ke kiri (tidak vice-versa).
2. Setiap berita (suara) seharusnya ditangkap dulu dengan logika (nalar) yang ada diotak kiri. Jangan langsung bergerak (bereaksi).
3. Namun, karena prinsip No. 1, proses evaluasi oleh nalar jangan lama-lama (informasi jangan terdeposit terlalu lama di otak kiri, harus dikirim ke otak kanan untuk dilaksanakan dan residunya dikeluarkan lewat telinga kanan.
4. Tampaknya nenek moyang kita punya prinsip bahwa "ada pintu masuk (entrance), ada pintu keluar (exit)", melalui ungkapan "masuk di telinga kiri, keluar dari telinga kanan". Belum ada catatan sejarah, sejak kapan di Indonesia ini "pintu masuk, sekaligus menjadi pintu keluar". Kalaupun pernah ada dalam bentuk tidak tertulis, setidaknya hingga kini ada catatan kalau pura di Bali ada "gerbang kiri", yang biasa digunakan untuk masuk (ngranjing), lalu "gerbang kanan", yang biasa digunakan untuk keluar (pemedal).
Terkait dengan HP itu, mungkin hasil cross-check saya melalui "warisan nilai tradisi/budaya" itu dapat menjadikan sebuah cermin. Negara atau UGM ini mungkin akan bisa lebih baik kalau bagian "entrance" dan bagian "exit" nya jelas, dan digunakan setepatnya.
Saya mendapat info agar para pengguna ponsel berhati-hati untuk tidak penggunakan telinga kanan guna mendengarkan HP karena dapat merusak otak kanan. Silakan cek melalui citra yang saya attach.
Jika diseksamai mungkin himbauan itu ada benarnya dengan beberapa pengetahuan sebelumnya. Otak kiri berkaitan dengan kemampuan intelektual, dan otak kanan berkaitan dengan motorik (ketrampilan) . Khabarnya, gelombang radio pada HP dapat mempengaruhi otak kanan (melalui telinga kanan) sehingga selanjutnya dapat mempengaruhi fungsi gerak. Maka, fungsi gerak bisa mengalami malfunction, kejang, keram, dll (termasuk impotensi :=))
Karena itu disarankan hanya mendengarkan dengan telinga kiri. Alasannya adalah:
1. Sesuai dengan saran ungkapan leluhur: "masuk telinga kiri, keluar telinga kanan". Maknanya, memang aliran informasi itu dari kiri ke kanan, bukan dari kanan ke kiri (tidak vice-versa).
2. Setiap berita (suara) seharusnya ditangkap dulu dengan logika (nalar) yang ada diotak kiri. Jangan langsung bergerak (bereaksi).
3. Namun, karena prinsip No. 1, proses evaluasi oleh nalar jangan lama-lama (informasi jangan terdeposit terlalu lama di otak kiri, harus dikirim ke otak kanan untuk dilaksanakan dan residunya dikeluarkan lewat telinga kanan.
4. Tampaknya nenek moyang kita punya prinsip bahwa "ada pintu masuk (entrance), ada pintu keluar (exit)", melalui ungkapan "masuk di telinga kiri, keluar dari telinga kanan". Belum ada catatan sejarah, sejak kapan di Indonesia ini "pintu masuk, sekaligus menjadi pintu keluar". Kalaupun pernah ada dalam bentuk tidak tertulis, setidaknya hingga kini ada catatan kalau pura di Bali ada "gerbang kiri", yang biasa digunakan untuk masuk (ngranjing), lalu "gerbang kanan", yang biasa digunakan untuk keluar (pemedal).
Terkait dengan HP itu, mungkin hasil cross-check saya melalui "warisan nilai tradisi/budaya" itu dapat menjadikan sebuah cermin. Negara atau UGM ini mungkin akan bisa lebih baik kalau bagian "entrance" dan bagian "exit" nya jelas, dan digunakan setepatnya.

0 comments:
Post a Comment